Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Inisiatif...

Suatu hari Fatih pulang sekolah bawa uang. Hey,  uang dari mana ini? Rupanya dia menjual sebagian kartu mainannya kepada teman-temannya. Aiiih…. Kok bisa-bisanya? Padahal gak disuruh.. Tapi kok inisiatif sendiri… alhamdulillah…

Dulu dan Sekarang ya Beda....

Dulu,  uang jajan saya Rp. 500 perhari. Uang segitu cukup untuk beli bakso semangkok dan es campur segelas. Hari gini,  bahkan uang logam limaratusan itu dilempar-lemparkan seperti tiada guna. Namun,  zaman terus berganti… tak selamanya kita hidup di zaman yang segalanya mudah. Adakalanya justru kita mengalami masa-masa sulit.

Cukup

Jadi orang yang “cukup” itu menyenangkan ya. Bukan berarti kaya raya kok. Yang hartanya berlimpah sampai tumpah. Ini cukup. Artinya,  kapan saja kita perlu sesuatu,  maka Allah cukupkan. Mungkin kita bukan orang yang banyak harta,  tapi kita tak pernah kelaparan bukan?

Keinginan vs Kebutuhan

Membedakan kebutuhan dan keinginan di zaman sekarang itu susah. Kadang saya ingin sesuatu ternyata saya tak butuh itu. Anak-anak,  belum begitu pandai membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Ya,  ingin jajan. Ingin beli baju,  ingin ini itu dan seringnya minta dituruti saat itu juga. Ya sepanjang keinginan itu tak muluk,  bisa dipenuhi segera. Tapi kalau agak berat,  Nak,  minta sama Allah ya terus menabung,  kalau uang sudah cukup,  kita beli. Tapi,  anehnya,  saya bahkan belum seketat itu memenej finansial saya sendiri. Menyedihkan,  bukan?

Tentang Bisnis

Aku pernah mencoba bisnis mainan edukasi,  awal-awal berjalan lancar. Pemasukan dan pengeluaran tercatat rapi. Sampai resi pengiriman pun disimpan dengan baik. Tapi itu hanya di awal,  makin lama makin kacau. Tak pernah mencatat,  uang dipakai sembarangan,  ahh… benar-benar tidak cerdas. Sebab itulah kalau ada godaan untuk membuka usaha,  selalu tenggelam lagi. Sudahlah,  malas rasanya bermain-main dengan bisnis. Sementara saya sadari bahwa kemampuan saya bukan di bidang itu.

Uang Jajan Santri

Anak-anak santri menyimpan uang jajannya kepada saya. Setiap hari ada saja yang memanggilku untuk minta uang. Duaribu,  tigaribu,  limaribu… sebab bila mereka simpan sendiri uangnya,  habis untuk jajan. Karena itu mereka dibatasi,  sehari maksimal limaribu ya. Terkecuali ada kepentingan mendadak,  boleh lebih.

Konsep Rezeki Versi Suami

Suamiku tipe orang yang gak banyak perhitungan dengan uang. Ya,  penting memang baginya untuk tahu pengeluaran untuk apa saja. Dan saya selalu laporan untuk ini dan itu. Namun,  kadang kalau uang menipis hampir habis,  suami selalu optimis. Tenang aja ntar juga ada lagi. Uang habis pertanda Allah akan ngasih rezeki lagi. Begitulah. Jadi tak pernah suami mengeluh,  duit habis dan sebagainya. Ajaibnya,  memang iya,  ketika di saat-saat genting itu eeeeh tiba-tiba aja ada rezeki yang datang. Dalam bentuk apa saja,  dengan jalan yang tak disangka-sangka

Jajan...

Hal yang paling repot sepanjang hari adalah meladeni ketiga anak ini jajan. Apalagi warung dekat rumah,  wassalam deh. Gak kehitung,  seribu duaribu lepas begitu saja. Sudah dikasih batasan,  maksimal 2ribu per anak sekali jajan. Sebab ya ituu… jajan sehari lebih dari sekali….

Ingin Berenang...

Suatu hari Thoriq ingin berenang. Tentu saja,  tiket masuk kolam renang bukan seribu duaribu. Tapi 25.000 per orang. Kukatakan,  tiketnya mahal,  dan kita harus membayar untuk lima orang. Jadi sejak hari itu dia dan kakaknya berlomba untuk menabung. Berminggu-minggu lamanya mereka mengumpulkan receh demi receh,  hingga ketika cukup uangnya,  dengan bangga dibawanya uang itu ke kolam renang. Alhamdulillah…

Finansial... Uf....

Harus saya akui,  bahwa untuk urusan finansial,  saya kurang pandai mengaturnya. Sejak kecil sebenarnya sudah diajarkan untuk menabung dan berhemat,  tapi di tengah arus perekonomian yang melambung tak karuan,  aahhh…. Terasa sekali bahwa uang adalah sesuatu yang sangat susah diatur. Tantangan kali ini membuatku harus merenung banyak. Apa yang bisa kuajarkan kepada anak-anak?