Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2017

Day 10 Game Level #4

Hari ini Fatih sedang observasi kemandirian di SD Laboratorium Percontohan UPI Serang. Sebagai seleksi apakah dia layak untuk masuk menjadi salah satu siswa. Alhamdulillah Fatih tidak banyak mengalami kesulitan. Dia mudah berbaur dan beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman barunya. Meski awalnya malu-malu, tapi dia bisa menjalani berbagai tes (yang sebenarnya hanya game dan bermain) tanpa saya dampingi. Saat senam pinguin, dia melihat contoh gerakan gurunya. Namun lucunya, guru mencontohkan kaki kanan, dia menirunya kaki kiri. Yah, kalau berhadap-hadapan begitu, agak sulit baginya benar-benar sama dengan gerakan gurunya. Mandiri, mau ditinggal tanpa menangis. Tandanya dia sudah siap masuk sekolah dasar dan siap belajar. Alhamdulillah. Dengan metode apapun semoga dia bisa mengikuti dan mudah beradaptasi.

Day 9 Game Level 4

Memang benar ya, belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air. Kerasa banget bedanya. Contohnya saja belajar menghafal Quran, banyak banget yang kelewat atau lupa. Fa dan Wa sering ketuker. Haduuuh... Kalau anak-anak cepat sekali belajarnya. Meskipun begitu, saya tak mau menyerah. Menghafal sehari satu ayat dengan metode Kauny. Menghafal Quran semudah tersenyum. Pakai gerakan tangan. Fatih diajari, agak malas dia pakai gerakan tangan. Tapi dia dengerin dan bisa. Belakangan saya ragu, dia ini auditori atau kinestetik? Kholid, 2 tahun. Paling semangat kalau pakai gerakan tangan. Baginya seperti permainan. Jadi minta diulang terus sampai bosan. Lalu aktif dengan permainan lain. Thoriq lebih banyak "gak mau laaaah" kalau diajak ngafalin bareng. Hehe. . Lika liku bermain dan belajar bersama anak.

Day 8 Game Level #4

Apa permainan yang mengasyikan saat kita kecil dulu? Banyak banget ya. Tak seperti sekarang yang mainannya serba digital. Salah satu permainan yang seru adalah ABC-an. Tebak-tebakan nama sesuatu berdasar abjadnya. Kita sumbang jari berapa, lalu mulai mengeja. A B C D E F G dst.... Kalau berhenti di A berarti sebutkan nama apaaaa gitu dari huruf A. Misalnya nama-nama hewan.  Selain menghafal huruf, juga kreatif mengingat nama hewan. Fatih diajak main ini bukannya asal seru, malah perhitungan. Dia nunggu saya keluarin jari dulu, dia tampak mikir mau keluarin jari berapa ya biar tepat pada huruf yang nantinya bisa dia tebak. But it's ok, yang penting kami senang.. Dan dia menunjukkan bakat analisanya. Bermain dan belajar bisa menyenangkan.

Day 7 Game Level #4

Udah beberapa hari Thoriq minta lego, tapi belum juga kubelikan. Habisnya kalau punya mainan yang perintilan kecil-kecil itu pasti hilang. Tapi pagi ini, Fatih menggunakan uang tabungannya untuk membeli lego. Untuknya, dan untuk Thoriq. Harganya 7ribu. Kalau beli dua berapa? Fatih mulai menghitung menggunakan jarinya. 14ribu! Oke, dia belikan.. Sampai rumah, dimainkan. Thoriq banyak diemnya. Minta saya aja yang menyusun. Menurutnya pula tidak ada panduannya. Oke, mungkin dia perlu melihat tutorial. Makin ke sini makin menampakkan ciri-ciri visual. Fatih beda. Dia langsung eksekusi sendiri, tanpa mencari tutorial. Namun, ada satu komponen yang hilang. Dan dia sedih sekali. Dan sudah mencari kemana mana tidak ketemu juga. Fatih pun makin menunjukkan tanda-tanda anak kinestetis dan auditori. Serunya mengamati gaya belajar anak.

Day 6 Game Level #4

Beberapa hari ini Fatih tampak sedih. Rantai sepedanya rusak. Biasanya dia ke masjid naik sepeda kesayangannya itu. Sepertinya dia sudah berusaha membetulkannya sendiri, tapi yang terjadi malah rusak. Dan sepedanya tidak bisa digunakan. Kasihan. Tapi dari situ kelihatan bahwa dia sudah berusaha mencari solusi atas masalahnya sendiri, meskipun tidak bisa. Setidaknya dia sudah berusaha. Dan nanti sepedanya akan diperbaiki di bengkel.  Dia tidak menangis saat sepedanya rusak. Hanya agak frustasi aja tuh. Tapi dia berkata, "Aa udahan dulu main sepedanya. Sepedanya rusak." Kalau begini, disebut tipe kinestetis kah?

Day 5 Game Level #4

Semakin diamati, gaya belajar anak berbeda satu sama lain yah. Jadi seru memetakan mereka. Hari ini pun mereka menunjukkan keunikannya masing-masing dalam belajar. Thoriq, kalau diajak menggambar bilangnya capek. Diajak ngaji Iqro, dengan santainya bilang gak bisa padahal bisa. Entah kenapa, kalau sama ustazah di TPAnya bisa dan dapat nilai B. Kalau di rumah, kayak gak minat belajar. Kholid, meski baru dua tahun, dia sangat senang berhitung. Tapi sesukanya dia aja. Langsung angka dua, tiga, empat, lima, tujuh... Angka enam dilewat. Kalau udah sampai sembilan, langsung teriak yeeeaaayyy..... Tanpa menghitung sampai sepuluh dulu. Begitulah dia merayakan keberhasilannya berhitung. Lucu ngitungnya pakai jemari yang ditekuk ngasal. Itu niru dari neneknya. Kalau didongengkan, ekspresi dia jauh lebih lebay dari saya. Ekspresi takut, seru, panik, dsb. Gemesin! Fatih, kubacakan puisi. Udah sering dibacain puisi, dia menyimak aja dengan baik. Didongengkan cerita juga kalem aja dengerin. ...

Day 4 Game Level #4

Ada rekaman pembacaan puisi oleh seorang anak di HP saya. Malam ini saya tunjukkan pada Fatih dan Thoriq. Reaksinya, bisa diduga. Fatih diam memerhatikan. Menyimak dengan serius, meski ketika ditanya puisi itu tentang apa, dia tidak begitu paham. Tak apa. Dia sudah sangat antusias untuk melihatnya. Thoriq sibuk bertanya. Ini dimana? Kapan? Siapa yang baca? Laki-laki atau perempuan? Sampai durasi videonya pun dia perhatikan. semoga saja kelak dia jadi wartawan. Hehe. Aaamiiin... Namun, Fatih merasa agak terganggu karena Thoriq ribut bertanya terus... Yah sepertinya dia suka suasana hening, tidak suka kebisingan. Setiap hari, selalu ada kejutan dari anak-anak. 

Day 3 Game Level #4

Tanggal: 22 April 2017 Aktivitas: Menggambar Saya perhatikan, biasanya kalau menggambar, Fatih tidak banyak tanya. Tinggal lakukan saja. Beres. Tak peduli gambarnya bagus atau tidak, bagi saya itu sudah sangat bagus. Hari ini, benar saja, saya minta Fatih menggambar rumah, dia langsung eksekusi. Sedangkan Thoriq tidak mau langsung mengganbar. Dia lihat dulu gambar Fatih. Jadi.. Fatih, cenderung kinestetis Thoriq, cenderung visual. Thoriq memang semakin menunjukkan tanda-tanda visual. Besok cari aktivitas lain untuk lebih mendetail pengamatannya.

Day 2 Level #4

Taraaaa..... Hari ini seru-seruan lagi sama bocah-bocah. Emang paling seneng baca cerita sih ya... Kalau kemarin cuma Fatih dan Thoriq, sekarang Kholid ikutan juga... Ada perbedaan nih dari kemarin. Fatih tetep yaaaa menyimak cerita dengan baik, tanpa interupsi. Sepertinya dia menikmati betul ceritanya. Kadang sih nengok buku, tapi biasa aja. Gak lebay. Thoriq nih yang heboh banget. Seperti kemarin, dia sibuk tanya ini apa itu apa. Ada gambar dia nanya ini apa. Terus, sambil menirukan apa yang saya ceritakan. Sepertinya, dia gak terlalu tertarik dengan isi cerita, tapi bagaimana saya bercerita. Saya biarkan saja. Thoriq memang paling banyak bicara. Jajan cilung aja dia sibuk nanya sama mamang pedagangnya. Ini apa? Bumbunya. Bumbunya buat apa. Dsb. Sibuk tanya terus.  Kholid, biasany dia malah lebih heboh menirukan gaya saya bercerita. Tapi tadi dia sibuk merobek-robek flashcard milik Fatih. Biasanya dia senang dengar cerita, hari ini tampak cuek saja. Yah, mungkin dia ngantuk...

Day 1 Level 4

Aktivitas hari ini, 20 April 2017 Membaca buku Fatih: Asyik mendengarkan, tanpa interupsi, tanpa menyela. Kalau mau bertanya, menunggu sampai saya selesai membacakannya. Sampai di sini, ini ciri auditori. Meski kadang ingin tahu gambar dalam buku tersebut. Berbeda dengan Fatih, Thoriq kebalikannya. Sedang dibacakan, dia tampak tidak begitu peduli apa yang kubacakan. Dia sibuk bertanya tentang gambar dalam buku. Ini apa? Itu apa? Ini kenapa begini? Kenapa begitu? Kok bisa? Dan sebagainya. Sambil dia karang-karang cerita sendiri. Dia lebih tertarik melihat keseluruhan isi buku, dibandingkan "apa sih" yang ada dalam buku itu. Oke, ini ciri anak visual. Pengamatan akan dilanjutkan besok.

Aliran Rasa #3

Family Project. Kedengarannya wah banget ya. Berasa seperti profesional gitu, lhah kan emang kita pengen jadi keluarga profesional. Yap! Keluarga kami begitu spontan, dan sangat suka kumpul. Komunikasi mengalir begitu saja. Kritik dan saran kami tanggapi dengan canda tawa. Mengerjakan project pun sesuai mood saja. Kalau semangat, ayo laksanakan saat itu juga. Kalau lelah, bisa dihentikan di tengah jalan. Habis itu leyeh-leyeh. Kalau tidak berminat sejak awal, segera cari alternatif kegiatan lain. Kadang saya merasa, apalah yang sudah saya kerjakan ini. Tugas dikerjakan tidak dengan semestinya. Melihat teman-teman mengerjakan begitu apik dan rapi. Lah saya? *nundukin kepala. Tapi tiap keluarga berbeda cara kan ya? Kebetulan saja keluarga kecil kami ini senangnya kumpul doang, wes pokoke kumpul. Dan satu lagi, suka jalan-jalan. Itu bisa disebut project juga kan? Siapa tahu, dari kecil sering diajak jalan-jalan, setelah dewasa nanti anak-anak senang berpetualang, menjelajah dunia se...

Day 10 Level 3

Rencana mendadak pagi ini adalah pergi ke Jakarta untuk mengikuti seminar yang diadakan INSIST yang bertema “Islamisasi Penulisan Sejarah”. Tema yang sangat menggiurkan kan? Maka setelah beres-beres dan goreng bakwan untuk suami, berangkatlah saya ke lokasi mobil elf mangkal. Teman saya sudah menunggu. Mobil kelamaan ngetem, ada 1,5 jam jadi kami memutuskan batal berangkat. Tidak akan terkejar sampai di Jakarta tepat waktu. Walhasil kami malah pergi ke perpustakaan. Lumayan, me time. Anak-anak dijaga abahnya. Mungkin main game di komputer. Kalau sudah main game pasti akur dan anteng sekali. Ketika saya pulang, Kholid sedang tidur dan dua kakaknya sudah bisa ditebak. Sedang main game. Hari ini pesanan sprei online datang. Anak-anak senang sekali dengan motif pilihan mereka sendiri: Doraemon. Mereka berebut membantu memasang. Bahkan ketika dicuci, dijemur, disetrika, mereka ikut membantu walaupun Cuma pegang-pegang. Alhamdulillah lumayan seru. Selain itu, sekadar kumpul ngobr...