Langsung ke konten utama

Day 2 Level #4

Taraaaa..... Hari ini seru-seruan lagi sama bocah-bocah. Emang paling seneng baca cerita sih ya... Kalau kemarin cuma Fatih dan Thoriq, sekarang Kholid ikutan juga...

Ada perbedaan nih dari kemarin. Fatih tetep yaaaa menyimak cerita dengan baik, tanpa interupsi. Sepertinya dia menikmati betul ceritanya. Kadang sih nengok buku, tapi biasa aja. Gak lebay.

Thoriq nih yang heboh banget. Seperti kemarin, dia sibuk tanya ini apa itu apa. Ada gambar dia nanya ini apa. Terus, sambil menirukan apa yang saya ceritakan. Sepertinya, dia gak terlalu tertarik dengan isi cerita, tapi bagaimana saya bercerita. Saya biarkan saja. Thoriq memang paling banyak bicara. Jajan cilung aja dia sibuk nanya sama mamang pedagangnya. Ini apa? Bumbunya. Bumbunya buat apa. Dsb. Sibuk tanya terus. 

Kholid, biasany dia malah lebih heboh menirukan gaya saya bercerita. Tapi tadi dia sibuk merobek-robek flashcard milik Fatih. Biasanya dia senang dengar cerita, hari ini tampak cuek saja. Yah, mungkin dia ngantuk. 

Malam ini, merek Sudah tidur semua. Diiringi cerita, menuju alam mimpi...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Day 9 Game Level 4

Memang benar ya, belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air. Kerasa banget bedanya. Contohnya saja belajar menghafal Quran, banyak banget yang kelewat atau lupa. Fa dan Wa sering ketuker. Haduuuh... Kalau anak-anak cepat sekali belajarnya. Meskipun begitu, saya tak mau menyerah. Menghafal sehari satu ayat dengan metode Kauny. Menghafal Quran semudah tersenyum. Pakai gerakan tangan. Fatih diajari, agak malas dia pakai gerakan tangan. Tapi dia dengerin dan bisa. Belakangan saya ragu, dia ini auditori atau kinestetik? Kholid, 2 tahun. Paling semangat kalau pakai gerakan tangan. Baginya seperti permainan. Jadi minta diulang terus sampai bosan. Lalu aktif dengan permainan lain. Thoriq lebih banyak "gak mau laaaah" kalau diajak ngafalin bareng. Hehe. . Lika liku bermain dan belajar bersama anak.

Kreatifitas Bukan Mukjizat

Menyusuri jalanan kota Bandung pagi ini membuat saya terpana. Wah! Keren! Wow! Dan sederetan ketakjuban lainnya. Kreatif! Sejak dari Gedung Sate,  lapangan Gasibu, sampai tembok-tembok di jalan Asia Afrika hingga lukisan sepanjang jalan Braga,  membuat saya terus menggumamkan kata kreatif itu. Tembok penuh mural,  para seniman yang berkostum kartun dan lukisan yang luar biasa indah di jalan Braga. Menurut saya,  kreatifitas itu tidak tiba-tiba turun dari langit. Sebab kreatifitas bukanlah mukjizat,  melainkan hasil usaha manusia untuk mau berusaha dan berpikir di luar kebiasaan,  di luar keumuman. Sebab,  orang kreatif itu memang sedikit berbeda dengan orang yang hanya berpikir “lurus”. Saat kita melihat anak corat-coret tembok,  apa yang terlintas di pikiran kita? Tembok yang kotor? Atau justru memandangnya sebagai bentuk lain dari mural yang kreatif? Saat melihat kelakuan anak-anak yang mungkin sedikit unik, atau orang menyebutnya nakal,...

Day 6 Game Level #4

Beberapa hari ini Fatih tampak sedih. Rantai sepedanya rusak. Biasanya dia ke masjid naik sepeda kesayangannya itu. Sepertinya dia sudah berusaha membetulkannya sendiri, tapi yang terjadi malah rusak. Dan sepedanya tidak bisa digunakan. Kasihan. Tapi dari situ kelihatan bahwa dia sudah berusaha mencari solusi atas masalahnya sendiri, meskipun tidak bisa. Setidaknya dia sudah berusaha. Dan nanti sepedanya akan diperbaiki di bengkel.  Dia tidak menangis saat sepedanya rusak. Hanya agak frustasi aja tuh. Tapi dia berkata, "Aa udahan dulu main sepedanya. Sepedanya rusak." Kalau begini, disebut tipe kinestetis kah?