Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2017

Menjadi Kreatif Itu Butuh Kreatifitas

Kreatif. Menjadi manusia di zaman now itu suatu keharusan. Pergerakan informasi, kecanggihan teknologi semakin lama semakin cepat meninggalkan kita. Tapi kenapa kita harus kreatif? Untuk bisa bersaing dengan manusia lain yang juga dituntut untuk kreatif? Tidak. Kreatifitas adalah kemampuan diri untuk menyesuaikan kondisi. Beradaptasi  Bila kita tak bisa beradaptasi, sulit memang menjalani hidup yang keras. Kreatif adalah berpikir out of the box, beda, unik. Untuk bisa kreatif, butuh kreatifitas  Butuh usaha keras  Agar tidak biasa-biasa saja. Minimal 10 hari IIP mengajak kita menjadi kreatif. Semoga sudah bisa lebih baik dari sebelumnya.

Laron Goreng

Lagi musim hujan. Anak-anak santri menangkapi laron lalu digoreng. Ada-ada saja. Itu kreatif sih, karena siapa tahu suatu saat kalau kondisi darurat, gak ada makanan, maka laron bisa jadi solusi untuk mengganjal perut lapar. Hehe... Tapi saya mah gak berminat untuk mencoba, geli ih...

Kreatif adalah....

Kreatif bagi saya adalah bisa melakukan suatu kegiatan yang sangat penting di detik-detik akhir atau waktunya sangat sedikit. Dengan waktu yang sebentar, tapi dituntut untuk bisa mengikuti aturan, menyelesaikan tantangan, itulah kreatif. Artinya, bisa menyesuaikan diri dengan masalah dan dengan cepat mencari pemecahan masalahnya. Sesederhana itu. Setidaknya ya menurut saya.

Air...

Entah kenapa, air menjadi favorit anak-anak untuk meningkatkan kreatifitas anak. Lebih tepatnya sih, menggembirakan hati mereka. Biarkan saja main air, pasti bahagia. Siram-siraman air, air diguyur seperti hujan membasahi kepala, dll. Bagi anak-anak, yang seperti itu saja sudah menyenangkan sekali. Tinggal dipel saja bekasnya yang basah.

Jam Kardus

Masih tentang kardus. Kebetulan Fatih mendapat tugas dari sekolahnya untuk membuat jam yang terbuat dari kardus. Hmmm.... Bagaimana ya? Saya sendiri bingung, imajinasi saya sulit untuk menjangkaunya. Alhamdulillah Abahnya mau membantunya, jadi semoga terbantu. Syukurlah guru-gurunya juga merangsang kreativitas anak, bikin ini dan itu... Jadi anak pun terpancing untuk lebih kreatif...

Rumah Kardus

Bagi orang dewasa, kardus hanyalah sebuah wadah untuk penyimpanan. Tapi tidak demikian dengan anak-anak. Bagi mereka, kardus adalah rumah, mobil, pedang, tameng dan segala macam kreasi lain seauai imajinasi mereka. Tinggal sisa-sisanya yang berserakan. Acak-acakan. Dan meski sudah tampak seperti sampah, bagi anak-anak itu masih berguna.

Kholid Membuat Kalimat SPO

Membersamai tumbuh kembang anak itu menyenangkan ya. Kadang ada saja tingkah polahnya yang mengagetkan, membuat heran dan tertawa terpingkal-pingkal. MasyaAllah mungkin inilah mengapa anak disebut qurrota a'yun.... Kholid (2,5 th) sedang seru-serunya berlagak pandai membaca. Melihat obat batuk saya, dia seakan membaca labelnya, dengan mengarang apa yang dibacanya  "Obat batuk buat umu..." Dia percaya diri saat membacanya. Nah sore tadi, dia tunjuk buku kosong. Mulai membuka lembar ke sekian dan mengangkat buku itu seperti orang dewasa membaca koran. Padahal jelas itu halaman kosong, lagipula dia masih 2,5 tahun, belum bisa membaca.  Tapi, orang kreatif itu tandanya adalah bisa melihat apa yang orang lain gak bisa lihat. Am i right? Jadi apa yang dia ucapkan yang tampak seolah-olah dia sedang membaca? "Dedek baca buku ini." Aku tertegun. Dek.... Coba baca lagi, pinta saya. "Umu baca buku ini." Aku tertawa Hey, itu sudah memenu...

Serbuk Teh untuk Mengatasi Semut

Serbuk teh ini tadinya sudah saya sapu, tapi sempet difoto deh sebelum bener-bener hilang. Jadi, Kholid (2,5 th) berseru imut "Iiiih..banyak cemuuuuttt" "Iya biarin aja." Sahut saya cuek. Lagian semut kalau diusir nanti malah menggigit kita kan gawat.. Kholid diam-diam mengambil sebuah teh celup. Dirobek-robek filternya, isinya dituang-tuang di lantai menjadi beberapa bagian. "Dek itu kenapa digitu-gituin?" "Buat cemut." "Emang kenapa?" "Buat nutupin cemut. Abis cemutnya banyak." "Loh nanti kalo semutnya mati gimana?" "Ndak kok... Cuma catuuuu doang yg mati" Aku gak habis pikir, anak itu punya solusi untuk masalah seperti banyaknya semut tadi. Padahal yg menurutku paling masuk akal untuk mengatasi banyaknya semut adalah menyapunya. Hanya itu. Tapi dia juga punya solusi yang bolehlah saya bilang kreatif. Terima kasih Kholid

Bapak Penjual Mainan Kids Zaman Old

Kemarin sambil menunggu kawan-kawan bersiap untuk pulang, bapak ini menawarkan dagangannya di depan wisma. Play & Learn serta penggaris berpola yang sempat hits ketika saya masih menjadi kids zaman old. Bapak ini, bagi saya tak hanya menjual mainan edukatif itu, tapi juga mengedukasi kami bahwa ini adalah permainan yang bisa menumbuhkan kreatifitas. Harganya murah, 10.000 hingga 15.000. Tak hanya itu, sang Bapak yang ramah ini tak hentinya mendoakan yang baik-baik. Ketika serah terima uang, bapak itu berucap "Jazakallah neng...semoga rezekinya barokah... Selamat sampe tujuan". Aamiin Pak.... Aamiin.... Bapak ini sudah terlihat tua, tapi dari caranya menginformasikan daganganya, tampak sekali bahwa beliau bukan hanya menjual barang, tapi berbagi ilmu. Keseluruhannya, bapak ini tampak berpendidikan dari caranya mengucapkan " play & learn" dan mencontohkan beberapa kosakata dalam bahasa Inggris. Semoga barokah juga ya Pak....

Kreatifitas Bukan Mukjizat

Menyusuri jalanan kota Bandung pagi ini membuat saya terpana. Wah! Keren! Wow! Dan sederetan ketakjuban lainnya. Kreatif! Sejak dari Gedung Sate,  lapangan Gasibu, sampai tembok-tembok di jalan Asia Afrika hingga lukisan sepanjang jalan Braga,  membuat saya terus menggumamkan kata kreatif itu. Tembok penuh mural,  para seniman yang berkostum kartun dan lukisan yang luar biasa indah di jalan Braga. Menurut saya,  kreatifitas itu tidak tiba-tiba turun dari langit. Sebab kreatifitas bukanlah mukjizat,  melainkan hasil usaha manusia untuk mau berusaha dan berpikir di luar kebiasaan,  di luar keumuman. Sebab,  orang kreatif itu memang sedikit berbeda dengan orang yang hanya berpikir “lurus”. Saat kita melihat anak corat-coret tembok,  apa yang terlintas di pikiran kita? Tembok yang kotor? Atau justru memandangnya sebagai bentuk lain dari mural yang kreatif? Saat melihat kelakuan anak-anak yang mungkin sedikit unik, atau orang menyebutnya nakal,...

Lilin Darurat

Malam ini aku pergi dalam rangka menambah jam terbang passionku. Munas Forum Lingkar Pena dan terpaksa meninggalkan ketiga anakku dengan suamiku. Kami tetap berkomunikasi,  dan malam ini suami mengabarkan sedang mati lampu. Dikirimkanlaj foto lilin darurat itu. Saya kira itu kertas yang dibakar. Ternyata itu tisu basah dengan minyak goreng,  lalu dibakar dan tada.... Nyala sodara-sodara. Alhamdulillah suami kreatif dan anak-anak juga aman,  terhandle,  gak rewel,  gak nangis.. Jadi aku pun bisa tenang menjalani Munas ini.

Tembok Kreatifitas

Saya termasuk orangtua yang "ngelosin" saja anak-anak mau corat-coret tembok. Mau dilukis,  digambar,  ditempeli hasil gambar juga silakan aja deh. Yang penting senang. Sebab,  kalau sudah besar,  mana mungkin begitu kan? Kadang saya malah ikut corat-coret,  ikut bersenang-senang dengan merek. Nanti,  kalau sudah pada besar semua,  tembok dibersihkan dan dicat ulang juga bisa. Kan katanya,  kreatifitas itu perlu didukung... Yah walaupun kitanya yang agak capek dikit. Wis rapopo....