Langsung ke konten utama

Kholid Membuat Kalimat SPO

Membersamai tumbuh kembang anak itu menyenangkan ya. Kadang ada saja tingkah polahnya yang mengagetkan, membuat heran dan tertawa terpingkal-pingkal. MasyaAllah mungkin inilah mengapa anak disebut qurrota a'yun....

Kholid (2,5 th) sedang seru-serunya berlagak pandai membaca. Melihat obat batuk saya, dia seakan membaca labelnya, dengan mengarang apa yang dibacanya 
"Obat batuk buat umu..." Dia percaya diri saat membacanya.

Nah sore tadi, dia tunjuk buku kosong. Mulai membuka lembar ke sekian dan mengangkat buku itu seperti orang dewasa membaca koran.
Padahal jelas itu halaman kosong, lagipula dia masih 2,5 tahun, belum bisa membaca. 

Tapi, orang kreatif itu tandanya adalah bisa melihat apa yang orang lain gak bisa lihat. Am i right? Jadi apa yang dia ucapkan yang tampak seolah-olah dia sedang membaca?

"Dedek baca buku ini."
Aku tertegun. Dek.... Coba baca lagi, pinta saya.
"Umu baca buku ini."
Aku tertawa
Hey, itu sudah memenuhi kaidah SPO. 2,5 tahun lho usiamu dan belum diajari susunan kalimat subjek predikat objek, tapi itu kok betul?

Malam hari ketika diminta membaca (buku kosong favoritnya) dia mengucapkan
"Ini namanya Abah."
Ok. Trus?
"Ini namanya Umu."
Ok. Trus Dek?
"Ini namanya.....apalagi?"

Dan kami tertawa bersama

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Day 9 Game Level 4

Memang benar ya, belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air. Kerasa banget bedanya. Contohnya saja belajar menghafal Quran, banyak banget yang kelewat atau lupa. Fa dan Wa sering ketuker. Haduuuh... Kalau anak-anak cepat sekali belajarnya. Meskipun begitu, saya tak mau menyerah. Menghafal sehari satu ayat dengan metode Kauny. Menghafal Quran semudah tersenyum. Pakai gerakan tangan. Fatih diajari, agak malas dia pakai gerakan tangan. Tapi dia dengerin dan bisa. Belakangan saya ragu, dia ini auditori atau kinestetik? Kholid, 2 tahun. Paling semangat kalau pakai gerakan tangan. Baginya seperti permainan. Jadi minta diulang terus sampai bosan. Lalu aktif dengan permainan lain. Thoriq lebih banyak "gak mau laaaah" kalau diajak ngafalin bareng. Hehe. . Lika liku bermain dan belajar bersama anak.

Kreatifitas Bukan Mukjizat

Menyusuri jalanan kota Bandung pagi ini membuat saya terpana. Wah! Keren! Wow! Dan sederetan ketakjuban lainnya. Kreatif! Sejak dari Gedung Sate,  lapangan Gasibu, sampai tembok-tembok di jalan Asia Afrika hingga lukisan sepanjang jalan Braga,  membuat saya terus menggumamkan kata kreatif itu. Tembok penuh mural,  para seniman yang berkostum kartun dan lukisan yang luar biasa indah di jalan Braga. Menurut saya,  kreatifitas itu tidak tiba-tiba turun dari langit. Sebab kreatifitas bukanlah mukjizat,  melainkan hasil usaha manusia untuk mau berusaha dan berpikir di luar kebiasaan,  di luar keumuman. Sebab,  orang kreatif itu memang sedikit berbeda dengan orang yang hanya berpikir “lurus”. Saat kita melihat anak corat-coret tembok,  apa yang terlintas di pikiran kita? Tembok yang kotor? Atau justru memandangnya sebagai bentuk lain dari mural yang kreatif? Saat melihat kelakuan anak-anak yang mungkin sedikit unik, atau orang menyebutnya nakal,...

Day 6 Game Level #4

Beberapa hari ini Fatih tampak sedih. Rantai sepedanya rusak. Biasanya dia ke masjid naik sepeda kesayangannya itu. Sepertinya dia sudah berusaha membetulkannya sendiri, tapi yang terjadi malah rusak. Dan sepedanya tidak bisa digunakan. Kasihan. Tapi dari situ kelihatan bahwa dia sudah berusaha mencari solusi atas masalahnya sendiri, meskipun tidak bisa. Setidaknya dia sudah berusaha. Dan nanti sepedanya akan diperbaiki di bengkel.  Dia tidak menangis saat sepedanya rusak. Hanya agak frustasi aja tuh. Tapi dia berkata, "Aa udahan dulu main sepedanya. Sepedanya rusak." Kalau begini, disebut tipe kinestetis kah?