Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Aliran Rasa; Dongeng Hadiah Terindah

Mendongeng adalah investasi masa depan bagi anak. Selamanya anak akan mengingatnya. Meski bukan ceritanya, tapi momennya. Momen berharga bersama orangtua. Sebab ada cinta dan kedekatan yang hangat lewat penuturan sederhana yang disampaikan dalam dongeng tersebut.... Menjadi kenangan berharga sepanjang hidup, bukankah itu hadiah terindah bagi anak dan orangtuanya? Mari biasakan mendongeng sebelum tidur pada anak.

Dongeng Masa Kecil

Saya merindukan masa kecil saya, ketika mendengar dongeng dari para orangtua  Negeri kita memang punya budaya bercerita. Tanpa disadari hal itu menjadi sarana mendidik yang baik. Dongeng tentang dua kakak beradik yang main di hutan lalu sang adik dimakan macan, adalah salah satu dongeng masa kecil itu. Bagaimana kakak dan adik harus saling menyayangi. Jadi harus saling menjaga agar mereka tidak berada dalam bahaya Masa kecil dan dongeng tak bisa dipisahkan....

Raja Babi Hutan Cari Makan

Malam ini, Kholid menguasai panggung. Tentu saja panggung tempat tidur. Saat matanya mulai riyip-riyip, tentu saja dia mengatur judul dongeng nya. Apalagi kalau bukan "Raja Babi Hutan" Spontan saya ngarang... Ada raja babi hutan yang jalan sendirian mencari makan. Dia suka makan buah-buahan. Seperti jeruk, apel, kesemek dll. Dia menunggu di bawah pohon, berharap ada buah yang jatuh  Tapi tidak ada yang jatuh juga. Sampai dia lelah menunggu. Kemudian kancil lewat dan bertanya mengapa raja babi hutan diam saja. Mengapa tak menyeruduk saja pohon itu? Supaya buahnya berjatuhan. Babi itu melakukan saran itu. Sekali seruduk... Pohon diam saja  Dua kali .. tiga kali... Pohon itu hanya bergoyang. Tidak menjatuhkan buahnya. Lalu ada badak lewat. Kancil minta tolong. Ya, kepala badak itu kuat, untuk bisa menyeruduk pohon tersebut. Sekali seruduk buahnya berjatuhan .... Babi senang sekali. Dia lalu memakan buah itu sama-sama dengan kancil dan badak. Babi mengucapkan t...

Raja Babi Hutan

Kemarin kakak-kakaknya minta didongengin tentang kerajaan Bala-bala. Nemu namanya asal saja. Di tengah-tengah dongeng, Kholid (2,5) mengambil alih peran. "Rajanya, namanya babi hutan." Entah, sejak kami pulang sore dan melihat babi hutan di jalan (rumah kami dekat hutan) jadinya Kholid senang menamai tokohnya babi hutan  Tak peduli bagaimanapun kisahnya. Thoriq (5,5) paling sebal kalau aku dongeng tentang babi hutan. 😂

Kisah Khalifah Umar bin Khattab

Salah satu manfaat suka membaca adalah menambah wawasan. Meski belum bisa membaca, maka ceritakan lah isi buku tersebut kepada anak. Terutama menjelang tidur. Anak-anak pasti minta dongeng dulu, tak peduli tentang apa. Yang penting adalah bondingnya itu. Kedekatan itu. Meski ceritanya sudah hafal luar kepala, tentang ibu miskin memasak batu lalu Khalifah Umar memberinya makanan. Namun pesan-pesan kebaikan dalam kisah itu tak pernah sekalipun membosankan. Mereka jadi mengenal betapa hebatnya sosok Umar. Mereka juga jadi tahu bahwa ada lho orang miskin yang sampai malam tidak bisa makan karena tidak punya makanan.... Momen yang sangat berharga....

Manfaat Dongeng

Dongeng adalah sebuah cara untuk mendidik a.nak dengan menyenangkan. Melalui dongeng kita bisa menyampaikan pesan tanpa terkesan menceramahinya. Dongeng disukai oleh semua orang sebab mendengarkan cerita tentang sesuatu memang sangat mengasyikkan. Ada beberapa manfaat dongeng diantaranya: 1. Mendekatkan hubungan antara orang tua dan anak 2. Akan tumbuh kepercayaan anak terhadap orang tua lantaran mereka menyukai dongeng kita. 3. Menasehati secara terselubung, jadi tidak membuat jarak antara kita dan anak.

Dongeng Terserah Umu

Fatih menemukan buku ini lalu katanya "ini buku baru ya" "Iya itu buku baru" "dari mana mu." "Dari teman umu. Itu yang nulis temen Umu loh." "siapa itu". "Ada namanya" "Oh ini" Lalu dibuka di halaman terakhir ada fotonya "Ini ya teman Umu." "ya Hebat ya bisa bikin buku. Ada mau nggak kalau umu juga nulis buku kayak gini?". "Mau." "Ya doain ya." Buku ini adalah hadiah dari teman saat mengikuti acara Teacher Supercamp. Beliau adalah penulis buku cerita anak sekaligus pendongeng. Beliau adalah sosok yang sangat inspiratif. Kepala sekolah dan juga aktif di kegiatan yang berhubungan dengan dunia anak. menulis buku ini tentu adalah suatu prestasi Karena tanpa mendongeng langsung sebenarnya beliau menyampaikan dongeng kepada semua anak melalui buku. Aku jadi terinspirasi ingin juga menulis cerita anak supaya dongeng-dongeng yang kubuat itu bisa dibaca oleh banyak ora...

Dongeng Pengantar Tidur

Sudah menjadi kebiasaan bahwa sebelum tidur,anak-anak minta didongengin. Entah sambil baca buku, atau dongeng ngarang spontan. Biasanya sebelum cerita usai pun, mereka sudah terlelap ke alam mimpi. Namun sering juga aku yang ngantuk berat, jadi dongengnya "ngelantur". Beloknya bisa ekstrem banget. Misalnya, ini lagi cerita tentang babi hutan, tapi bisa nyambung menjadi orasi anti korupsi, jangan makan uang rakyat. Lalu anak-anak akan bingung, kok ceritanya jadi lain? Maka aku sadar, lanjut ke cerita asli, tapi belok lagi jadi ceramah gak jelas. Karena kalau aku ngantuk berat, bisa kayak orang mabok. Bicaranya ngawur ke mana-mana. Dan yang paling epik ketika momen bercerita adalah, aku duluan yang tertidur. Anak-anak pun bingung ini kenapa dongengnya terputus di tengah jalan?

Tak Pernah Bosan

Mendongeng adalah momen yang paling disukai anak-anak. Mendengarkan cerita sambil berimajinasi, sekaligus interupsi di tengah-tengah cerita. Kholid tak pernah bosan dengan satu cerita favoritnya. Sebelumnya gak bisa move on dari cerita semut, sekarang babi hutan. Selalu request dongeng babi hutan. Jadilah aku harus ngarang-ngarang cerita baru yang tokohnya babi hutan agar tidak membosankan karena ceritanya itu-itu saja. Kholid biasanya akan mengulang apa yang pernah ku ceritakan, dengan bahasanya sendiri, yang kadang kakak-kakaknya malas mendengar nya. Tapi aku memotivasi Kholid agar terus lanjut cerita, dan meminta kakak-kakaknya memahami dan toleransi terhadap adiknya yang sedang kreatif ini. Tapi tetap saja, mereka berdua bukannya mendukung, malah membulat begini "Gak mau denger cerita bayi! Bahasa bayi! Gak seru". Untung saja Kholid percaya diri, dia terus saja bercerita dengan kisah yang itu lagi itu lagi.

Babi Hutan yang Malang

Ada seekor babi hutan yang tersesat, ia tidak bisa pulang ke rumahnya. Sungguh kasihan. Dia berjalan mengitari hutan, tapi tidak juga menemukan tempat yang dituju. Lalu ada tiga orang pemburu yang membawa senapan kemudian para pemburu itu mengarahkan senapan nya kepada babi hutan yang dilihatnya sedang berjalan sendirian lalu senapan itu mengeluarkan peluru yang mengenai kaki babi hutan lantas babi hutan itu berjalan ter pincang pincang. kasihan sekali sampai-sampai kakinya mengeluarkan darah yang banyak sekali dia hanya bisa berteriak hok hok hok hok jangankan untuk pulang ke rumah di jalan saja dia tak berdaya tiga pemburu itu bersorak senang Akhirnya kita mendapatkan babi hutan itu mereka segera mengambil lebih hutan yang sudah lemah tak berdaya kakinya berdarah-darah diangkut dengan kayu diikat kuat pada kayu itu lalu digotong beramai-ramai. Kasihan sekali babi hutan itu dibawa pergi dari hutan para pemburu merasa puas hari itu meskipun mereka tidak tahu bahwa mereka telah ...

Anak-anak Hujan

Pada suatu hari, langit begitu mendung ..kelabu.... Terdengar suara gemuruh dan kilat menyambar-nyambar. Bapak Hujan berkata kepada anak-anaknya "Ayo Nak, kita harus turun ke bumi. Paman Geledek sudah memberi tanda untuk kita cepat-cepat turun. Ayo Nak." "Tidak mau ah Pak😔 nanti sakit kalau jatuh..." Kata si anak. "Tidak sakit kok, kan semuanya sudah terukur. Kita turun sebagai hujan itu sangat berguna lho..." Paman Geledek sudah bersuara nyaring lagi. Bapak Hujan cepat-cepat meminta anak-anaknya turun. "Bapak, aku nggak mau turun. Nanti aku nggak bisa ketemu Bapak lagi...." "InsyaAllah kita akan ketemu lagi... Sekarang kita menjadi hujan yang memberi bumi penghidupan... Untuk pohon, tanaman, binatang, dan manusia.... Nanti, kita akan mengalir menjadi sungai dan menuju laut. Setelah itu menguap.... Menjadi awan dan kita akan berkumpul lagi.... Menjadi hujan lagi .. ke laut lagi, menguap lagi... Begitu seterusnya ..." ...

Menjadi Kreatif Itu Butuh Kreatifitas

Kreatif. Menjadi manusia di zaman now itu suatu keharusan. Pergerakan informasi, kecanggihan teknologi semakin lama semakin cepat meninggalkan kita. Tapi kenapa kita harus kreatif? Untuk bisa bersaing dengan manusia lain yang juga dituntut untuk kreatif? Tidak. Kreatifitas adalah kemampuan diri untuk menyesuaikan kondisi. Beradaptasi  Bila kita tak bisa beradaptasi, sulit memang menjalani hidup yang keras. Kreatif adalah berpikir out of the box, beda, unik. Untuk bisa kreatif, butuh kreatifitas  Butuh usaha keras  Agar tidak biasa-biasa saja. Minimal 10 hari IIP mengajak kita menjadi kreatif. Semoga sudah bisa lebih baik dari sebelumnya.

Laron Goreng

Lagi musim hujan. Anak-anak santri menangkapi laron lalu digoreng. Ada-ada saja. Itu kreatif sih, karena siapa tahu suatu saat kalau kondisi darurat, gak ada makanan, maka laron bisa jadi solusi untuk mengganjal perut lapar. Hehe... Tapi saya mah gak berminat untuk mencoba, geli ih...

Kreatif adalah....

Kreatif bagi saya adalah bisa melakukan suatu kegiatan yang sangat penting di detik-detik akhir atau waktunya sangat sedikit. Dengan waktu yang sebentar, tapi dituntut untuk bisa mengikuti aturan, menyelesaikan tantangan, itulah kreatif. Artinya, bisa menyesuaikan diri dengan masalah dan dengan cepat mencari pemecahan masalahnya. Sesederhana itu. Setidaknya ya menurut saya.

Air...

Entah kenapa, air menjadi favorit anak-anak untuk meningkatkan kreatifitas anak. Lebih tepatnya sih, menggembirakan hati mereka. Biarkan saja main air, pasti bahagia. Siram-siraman air, air diguyur seperti hujan membasahi kepala, dll. Bagi anak-anak, yang seperti itu saja sudah menyenangkan sekali. Tinggal dipel saja bekasnya yang basah.

Jam Kardus

Masih tentang kardus. Kebetulan Fatih mendapat tugas dari sekolahnya untuk membuat jam yang terbuat dari kardus. Hmmm.... Bagaimana ya? Saya sendiri bingung, imajinasi saya sulit untuk menjangkaunya. Alhamdulillah Abahnya mau membantunya, jadi semoga terbantu. Syukurlah guru-gurunya juga merangsang kreativitas anak, bikin ini dan itu... Jadi anak pun terpancing untuk lebih kreatif...

Rumah Kardus

Bagi orang dewasa, kardus hanyalah sebuah wadah untuk penyimpanan. Tapi tidak demikian dengan anak-anak. Bagi mereka, kardus adalah rumah, mobil, pedang, tameng dan segala macam kreasi lain seauai imajinasi mereka. Tinggal sisa-sisanya yang berserakan. Acak-acakan. Dan meski sudah tampak seperti sampah, bagi anak-anak itu masih berguna.

Kholid Membuat Kalimat SPO

Membersamai tumbuh kembang anak itu menyenangkan ya. Kadang ada saja tingkah polahnya yang mengagetkan, membuat heran dan tertawa terpingkal-pingkal. MasyaAllah mungkin inilah mengapa anak disebut qurrota a'yun.... Kholid (2,5 th) sedang seru-serunya berlagak pandai membaca. Melihat obat batuk saya, dia seakan membaca labelnya, dengan mengarang apa yang dibacanya  "Obat batuk buat umu..." Dia percaya diri saat membacanya. Nah sore tadi, dia tunjuk buku kosong. Mulai membuka lembar ke sekian dan mengangkat buku itu seperti orang dewasa membaca koran. Padahal jelas itu halaman kosong, lagipula dia masih 2,5 tahun, belum bisa membaca.  Tapi, orang kreatif itu tandanya adalah bisa melihat apa yang orang lain gak bisa lihat. Am i right? Jadi apa yang dia ucapkan yang tampak seolah-olah dia sedang membaca? "Dedek baca buku ini." Aku tertegun. Dek.... Coba baca lagi, pinta saya. "Umu baca buku ini." Aku tertawa Hey, itu sudah memenu...

Serbuk Teh untuk Mengatasi Semut

Serbuk teh ini tadinya sudah saya sapu, tapi sempet difoto deh sebelum bener-bener hilang. Jadi, Kholid (2,5 th) berseru imut "Iiiih..banyak cemuuuuttt" "Iya biarin aja." Sahut saya cuek. Lagian semut kalau diusir nanti malah menggigit kita kan gawat.. Kholid diam-diam mengambil sebuah teh celup. Dirobek-robek filternya, isinya dituang-tuang di lantai menjadi beberapa bagian. "Dek itu kenapa digitu-gituin?" "Buat cemut." "Emang kenapa?" "Buat nutupin cemut. Abis cemutnya banyak." "Loh nanti kalo semutnya mati gimana?" "Ndak kok... Cuma catuuuu doang yg mati" Aku gak habis pikir, anak itu punya solusi untuk masalah seperti banyaknya semut tadi. Padahal yg menurutku paling masuk akal untuk mengatasi banyaknya semut adalah menyapunya. Hanya itu. Tapi dia juga punya solusi yang bolehlah saya bilang kreatif. Terima kasih Kholid

Bapak Penjual Mainan Kids Zaman Old

Kemarin sambil menunggu kawan-kawan bersiap untuk pulang, bapak ini menawarkan dagangannya di depan wisma. Play & Learn serta penggaris berpola yang sempat hits ketika saya masih menjadi kids zaman old. Bapak ini, bagi saya tak hanya menjual mainan edukatif itu, tapi juga mengedukasi kami bahwa ini adalah permainan yang bisa menumbuhkan kreatifitas. Harganya murah, 10.000 hingga 15.000. Tak hanya itu, sang Bapak yang ramah ini tak hentinya mendoakan yang baik-baik. Ketika serah terima uang, bapak itu berucap "Jazakallah neng...semoga rezekinya barokah... Selamat sampe tujuan". Aamiin Pak.... Aamiin.... Bapak ini sudah terlihat tua, tapi dari caranya menginformasikan daganganya, tampak sekali bahwa beliau bukan hanya menjual barang, tapi berbagi ilmu. Keseluruhannya, bapak ini tampak berpendidikan dari caranya mengucapkan " play & learn" dan mencontohkan beberapa kosakata dalam bahasa Inggris. Semoga barokah juga ya Pak....

Kreatifitas Bukan Mukjizat

Menyusuri jalanan kota Bandung pagi ini membuat saya terpana. Wah! Keren! Wow! Dan sederetan ketakjuban lainnya. Kreatif! Sejak dari Gedung Sate,  lapangan Gasibu, sampai tembok-tembok di jalan Asia Afrika hingga lukisan sepanjang jalan Braga,  membuat saya terus menggumamkan kata kreatif itu. Tembok penuh mural,  para seniman yang berkostum kartun dan lukisan yang luar biasa indah di jalan Braga. Menurut saya,  kreatifitas itu tidak tiba-tiba turun dari langit. Sebab kreatifitas bukanlah mukjizat,  melainkan hasil usaha manusia untuk mau berusaha dan berpikir di luar kebiasaan,  di luar keumuman. Sebab,  orang kreatif itu memang sedikit berbeda dengan orang yang hanya berpikir “lurus”. Saat kita melihat anak corat-coret tembok,  apa yang terlintas di pikiran kita? Tembok yang kotor? Atau justru memandangnya sebagai bentuk lain dari mural yang kreatif? Saat melihat kelakuan anak-anak yang mungkin sedikit unik, atau orang menyebutnya nakal,...

Lilin Darurat

Malam ini aku pergi dalam rangka menambah jam terbang passionku. Munas Forum Lingkar Pena dan terpaksa meninggalkan ketiga anakku dengan suamiku. Kami tetap berkomunikasi,  dan malam ini suami mengabarkan sedang mati lampu. Dikirimkanlaj foto lilin darurat itu. Saya kira itu kertas yang dibakar. Ternyata itu tisu basah dengan minyak goreng,  lalu dibakar dan tada.... Nyala sodara-sodara. Alhamdulillah suami kreatif dan anak-anak juga aman,  terhandle,  gak rewel,  gak nangis.. Jadi aku pun bisa tenang menjalani Munas ini.

Tembok Kreatifitas

Saya termasuk orangtua yang "ngelosin" saja anak-anak mau corat-coret tembok. Mau dilukis,  digambar,  ditempeli hasil gambar juga silakan aja deh. Yang penting senang. Sebab,  kalau sudah besar,  mana mungkin begitu kan? Kadang saya malah ikut corat-coret,  ikut bersenang-senang dengan merek. Nanti,  kalau sudah pada besar semua,  tembok dibersihkan dan dicat ulang juga bisa. Kan katanya,  kreatifitas itu perlu didukung... Yah walaupun kitanya yang agak capek dikit. Wis rapopo....

Inisiatif...

Suatu hari Fatih pulang sekolah bawa uang. Hey,  uang dari mana ini? Rupanya dia menjual sebagian kartu mainannya kepada teman-temannya. Aiiih…. Kok bisa-bisanya? Padahal gak disuruh.. Tapi kok inisiatif sendiri… alhamdulillah…

Dulu dan Sekarang ya Beda....

Dulu,  uang jajan saya Rp. 500 perhari. Uang segitu cukup untuk beli bakso semangkok dan es campur segelas. Hari gini,  bahkan uang logam limaratusan itu dilempar-lemparkan seperti tiada guna. Namun,  zaman terus berganti… tak selamanya kita hidup di zaman yang segalanya mudah. Adakalanya justru kita mengalami masa-masa sulit.

Cukup

Jadi orang yang “cukup” itu menyenangkan ya. Bukan berarti kaya raya kok. Yang hartanya berlimpah sampai tumpah. Ini cukup. Artinya,  kapan saja kita perlu sesuatu,  maka Allah cukupkan. Mungkin kita bukan orang yang banyak harta,  tapi kita tak pernah kelaparan bukan?

Keinginan vs Kebutuhan

Membedakan kebutuhan dan keinginan di zaman sekarang itu susah. Kadang saya ingin sesuatu ternyata saya tak butuh itu. Anak-anak,  belum begitu pandai membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Ya,  ingin jajan. Ingin beli baju,  ingin ini itu dan seringnya minta dituruti saat itu juga. Ya sepanjang keinginan itu tak muluk,  bisa dipenuhi segera. Tapi kalau agak berat,  Nak,  minta sama Allah ya terus menabung,  kalau uang sudah cukup,  kita beli. Tapi,  anehnya,  saya bahkan belum seketat itu memenej finansial saya sendiri. Menyedihkan,  bukan?

Tentang Bisnis

Aku pernah mencoba bisnis mainan edukasi,  awal-awal berjalan lancar. Pemasukan dan pengeluaran tercatat rapi. Sampai resi pengiriman pun disimpan dengan baik. Tapi itu hanya di awal,  makin lama makin kacau. Tak pernah mencatat,  uang dipakai sembarangan,  ahh… benar-benar tidak cerdas. Sebab itulah kalau ada godaan untuk membuka usaha,  selalu tenggelam lagi. Sudahlah,  malas rasanya bermain-main dengan bisnis. Sementara saya sadari bahwa kemampuan saya bukan di bidang itu.

Uang Jajan Santri

Anak-anak santri menyimpan uang jajannya kepada saya. Setiap hari ada saja yang memanggilku untuk minta uang. Duaribu,  tigaribu,  limaribu… sebab bila mereka simpan sendiri uangnya,  habis untuk jajan. Karena itu mereka dibatasi,  sehari maksimal limaribu ya. Terkecuali ada kepentingan mendadak,  boleh lebih.

Konsep Rezeki Versi Suami

Suamiku tipe orang yang gak banyak perhitungan dengan uang. Ya,  penting memang baginya untuk tahu pengeluaran untuk apa saja. Dan saya selalu laporan untuk ini dan itu. Namun,  kadang kalau uang menipis hampir habis,  suami selalu optimis. Tenang aja ntar juga ada lagi. Uang habis pertanda Allah akan ngasih rezeki lagi. Begitulah. Jadi tak pernah suami mengeluh,  duit habis dan sebagainya. Ajaibnya,  memang iya,  ketika di saat-saat genting itu eeeeh tiba-tiba aja ada rezeki yang datang. Dalam bentuk apa saja,  dengan jalan yang tak disangka-sangka

Jajan...

Hal yang paling repot sepanjang hari adalah meladeni ketiga anak ini jajan. Apalagi warung dekat rumah,  wassalam deh. Gak kehitung,  seribu duaribu lepas begitu saja. Sudah dikasih batasan,  maksimal 2ribu per anak sekali jajan. Sebab ya ituu… jajan sehari lebih dari sekali….

Ingin Berenang...

Suatu hari Thoriq ingin berenang. Tentu saja,  tiket masuk kolam renang bukan seribu duaribu. Tapi 25.000 per orang. Kukatakan,  tiketnya mahal,  dan kita harus membayar untuk lima orang. Jadi sejak hari itu dia dan kakaknya berlomba untuk menabung. Berminggu-minggu lamanya mereka mengumpulkan receh demi receh,  hingga ketika cukup uangnya,  dengan bangga dibawanya uang itu ke kolam renang. Alhamdulillah…

Finansial... Uf....

Harus saya akui,  bahwa untuk urusan finansial,  saya kurang pandai mengaturnya. Sejak kecil sebenarnya sudah diajarkan untuk menabung dan berhemat,  tapi di tengah arus perekonomian yang melambung tak karuan,  aahhh…. Terasa sekali bahwa uang adalah sesuatu yang sangat susah diatur. Tantangan kali ini membuatku harus merenung banyak. Apa yang bisa kuajarkan kepada anak-anak?

Membaca Buku Sains

Fatih suka membaca buku,  terutama buku tentang sains. Tentang alam semesta,  bintang,  planet dan sebagainya. Kalau sudah asyik begitu,  bisa lupa waktu. Dulu saat belum bisa membaca,  aku yang menbacakannya. Sekarang,  dia bisa membacanya sendiri,  bahkan membacakannya untuk Thoriq. Kadang menggunakan bahasa sendiri hanya berpedoman pada gambar....

Ingin Mandiri

Sebenarnya anak-anak punya naluri untuk mandiri. Ingin melakukan apa-apa yang menjadi kebutuhan hidupnya sendiri,  tanpa bantuan orang lain. Thoriq misalnya,  dia sedang senang membuat roti isi sendiri  Sekadar roti dioles margarin dan meises. Namun katanya,  buatan dia itu rasanya sedap. Yeah,  alhamdulillah aku jadi tak terlalu repot kalau dia punya semangat mengerjakan hal itu sendiri.

Main Tanah

Kali ini tentang Kholid,  putra ketigaku. Dia ini paling suka main tanah. Kalau sudah main tanah,  mana dengar suara-suara lain. Panggilanku tak digubrisnya. Asyik saja,  tak peduli pagi,  siang,  sore atau petang sekalipun. Aduh,  bagai masuk dunia sendiri deh... Tanah diubek-ubek,  diacak-acak,  dibentuk gunungan dan sebagainya pokoknya anteng aja deh kalau main tanah. Gak peduli kotor. Mana dia tahu kalau aku yang mencuci semua bajunya. Hahaha....

Berbinarnya Kamu, Aku yang Menghela Napas

Betapa tidak,  momen berbinar matamu adalah sama dengan momen aku harus banyak menghela napas dan mengendalikan amarah. Yah,  seperti sore ini. Aku biarkan kamu mandi,  kutinggal beberapa jenak. Begitu aku kembali,  bukan hanya lantai kamar mandi yang basah,  lantai ruang tengah tak hanya basah,  melainkan banjir. Tisu pun habis separuh,  entah kau apakan. Akhirnya,  terpaksa,  ngepel lebih awal dari jadwal. Aku bahagia ketika aku bisa tidak marah atas hal ini. Sebaliknya aku kesal kalau terpancing emosi. Semoga,  semoga aku bisa sabar menghadapimu....

Minecraft

Jujur saja,  hal lain yang dia sukai adalah game Minecraft. Membuat bangunan secara virtual,  mengalahkan zombie-zombie,  game petualangan dan survival ini membuat dia sangat menggemarinya. Kadang aku heran,  kok dia sudah bisa membuat bentuk bangunan baru,  mencoba trik baru yang abahnya saja belum bisa. Memang,  dalam hal game,  abahnya adalah figur terbaiknya. Dan aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Oke. Boys never be  man.

Anak Alam

Hal lain yang membuat Fatih tampak sangat bahagia adalah bermain dengan alam. Contohnya seperti kemarin,  main pasir,  main air,  lari-lari di kebon bertelanjang kaki,  dan yang paling bikin geli adalah pagi ini entah dapat dari mana,  dia pegang cicak. Cicak,  cacing,  belalang,  ah... Itu semua membuat dia nyaman rasanya. Pernah malah dia menggoreng belalang gara-gara pernah diajarkan di pelajaran Fiqh bahwa belalang itu halal jadi boleh dimakan.. Haduuuh Naaakk.... Kok yaaaa... Ah biarin aja,  yang penting mandi kalau udah kotor.

Bintang di Hati Mumu

Anak-anak adalah bintang. Semua punya keunikan dan kekhasan tersendiri. Fatih, misalnya. Pagi-pagi sudah keluar rumah,  karena libur jadi seneng banget. Sejam lebih dia baru pulang bawa kardus yang sudah dibentuk menjadi pedang dan tameng. Bikin sendiri lalu perang-perangan dengan Thoriq. Yang saya lihat,  dia berbinar-binar karenanya. Hepi sekali.

Day 1 game level #5

Hmm.... Saya belum membuat apa-apa nih. Entah pohon literasi, atau seperti yang teman-teman buat. Akuarium literasi, kereta literasi, entahlah. Kreativitas saya seperti mati. Membaca itu sudah menjadi bagian keseharian kami, sehingga malah jadi tak terdokumentasi. Hari ini saya masih membaca novel Rindu-Tere Liye. Dan Fatih membaca "Asmaul Husna". Itu saja.

Aliran Rasa Game Level #4

Gaya belajar, setiap anak itu unik. Membersamai mereka dengan gaya belajarnya yang berbeda, membuat diri ini takjub. Wah, anak-anak itu hebat ya MasyaAllah... Rasa ingin tahunya besar, cara belajarnya juga aahh... Luar Biasa! Yang penting, sebelum belajar, mereka merasa nyaman dulu. Barulah bisa senang belajar. Meskipun begitu, yang harus diutamakan adalah adab belajar. Harus diperhatikan betul, jangan sampai gaya belajar mengalahkan adab. Misalnya, karena anak kinestetik jadi tidak mau mendengarkan pelajaran dari gurunya, sebab dia bukan auditori. Ataupun sebaliknya, anak tidak mau membaca, hanya ingin mendengar Sebab ia anak visual. Lebih-lebih lagi, dia tidak mau membaca dan mendengar, karena dia kinestetis, jadi harus banyak gerak. Semacam itulah. Tetap harus disampaikan adab-adab murid kepada guru. Adab saat belajar. dan sebagainya. Gaya belajar dan segala teorinya adalah penunjang dalam proses pembelajaran. Yang jadi orientasi dalam Islam bukan hasil yang maksimal, melainkan ...

Day 10 Game Level #4

Hari ini Fatih sedang observasi kemandirian di SD Laboratorium Percontohan UPI Serang. Sebagai seleksi apakah dia layak untuk masuk menjadi salah satu siswa. Alhamdulillah Fatih tidak banyak mengalami kesulitan. Dia mudah berbaur dan beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman barunya. Meski awalnya malu-malu, tapi dia bisa menjalani berbagai tes (yang sebenarnya hanya game dan bermain) tanpa saya dampingi. Saat senam pinguin, dia melihat contoh gerakan gurunya. Namun lucunya, guru mencontohkan kaki kanan, dia menirunya kaki kiri. Yah, kalau berhadap-hadapan begitu, agak sulit baginya benar-benar sama dengan gerakan gurunya. Mandiri, mau ditinggal tanpa menangis. Tandanya dia sudah siap masuk sekolah dasar dan siap belajar. Alhamdulillah. Dengan metode apapun semoga dia bisa mengikuti dan mudah beradaptasi.

Day 9 Game Level 4

Memang benar ya, belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air. Kerasa banget bedanya. Contohnya saja belajar menghafal Quran, banyak banget yang kelewat atau lupa. Fa dan Wa sering ketuker. Haduuuh... Kalau anak-anak cepat sekali belajarnya. Meskipun begitu, saya tak mau menyerah. Menghafal sehari satu ayat dengan metode Kauny. Menghafal Quran semudah tersenyum. Pakai gerakan tangan. Fatih diajari, agak malas dia pakai gerakan tangan. Tapi dia dengerin dan bisa. Belakangan saya ragu, dia ini auditori atau kinestetik? Kholid, 2 tahun. Paling semangat kalau pakai gerakan tangan. Baginya seperti permainan. Jadi minta diulang terus sampai bosan. Lalu aktif dengan permainan lain. Thoriq lebih banyak "gak mau laaaah" kalau diajak ngafalin bareng. Hehe. . Lika liku bermain dan belajar bersama anak.

Day 8 Game Level #4

Apa permainan yang mengasyikan saat kita kecil dulu? Banyak banget ya. Tak seperti sekarang yang mainannya serba digital. Salah satu permainan yang seru adalah ABC-an. Tebak-tebakan nama sesuatu berdasar abjadnya. Kita sumbang jari berapa, lalu mulai mengeja. A B C D E F G dst.... Kalau berhenti di A berarti sebutkan nama apaaaa gitu dari huruf A. Misalnya nama-nama hewan.  Selain menghafal huruf, juga kreatif mengingat nama hewan. Fatih diajak main ini bukannya asal seru, malah perhitungan. Dia nunggu saya keluarin jari dulu, dia tampak mikir mau keluarin jari berapa ya biar tepat pada huruf yang nantinya bisa dia tebak. But it's ok, yang penting kami senang.. Dan dia menunjukkan bakat analisanya. Bermain dan belajar bisa menyenangkan.

Day 7 Game Level #4

Udah beberapa hari Thoriq minta lego, tapi belum juga kubelikan. Habisnya kalau punya mainan yang perintilan kecil-kecil itu pasti hilang. Tapi pagi ini, Fatih menggunakan uang tabungannya untuk membeli lego. Untuknya, dan untuk Thoriq. Harganya 7ribu. Kalau beli dua berapa? Fatih mulai menghitung menggunakan jarinya. 14ribu! Oke, dia belikan.. Sampai rumah, dimainkan. Thoriq banyak diemnya. Minta saya aja yang menyusun. Menurutnya pula tidak ada panduannya. Oke, mungkin dia perlu melihat tutorial. Makin ke sini makin menampakkan ciri-ciri visual. Fatih beda. Dia langsung eksekusi sendiri, tanpa mencari tutorial. Namun, ada satu komponen yang hilang. Dan dia sedih sekali. Dan sudah mencari kemana mana tidak ketemu juga. Fatih pun makin menunjukkan tanda-tanda anak kinestetis dan auditori. Serunya mengamati gaya belajar anak.

Day 6 Game Level #4

Beberapa hari ini Fatih tampak sedih. Rantai sepedanya rusak. Biasanya dia ke masjid naik sepeda kesayangannya itu. Sepertinya dia sudah berusaha membetulkannya sendiri, tapi yang terjadi malah rusak. Dan sepedanya tidak bisa digunakan. Kasihan. Tapi dari situ kelihatan bahwa dia sudah berusaha mencari solusi atas masalahnya sendiri, meskipun tidak bisa. Setidaknya dia sudah berusaha. Dan nanti sepedanya akan diperbaiki di bengkel.  Dia tidak menangis saat sepedanya rusak. Hanya agak frustasi aja tuh. Tapi dia berkata, "Aa udahan dulu main sepedanya. Sepedanya rusak." Kalau begini, disebut tipe kinestetis kah?

Day 5 Game Level #4

Semakin diamati, gaya belajar anak berbeda satu sama lain yah. Jadi seru memetakan mereka. Hari ini pun mereka menunjukkan keunikannya masing-masing dalam belajar. Thoriq, kalau diajak menggambar bilangnya capek. Diajak ngaji Iqro, dengan santainya bilang gak bisa padahal bisa. Entah kenapa, kalau sama ustazah di TPAnya bisa dan dapat nilai B. Kalau di rumah, kayak gak minat belajar. Kholid, meski baru dua tahun, dia sangat senang berhitung. Tapi sesukanya dia aja. Langsung angka dua, tiga, empat, lima, tujuh... Angka enam dilewat. Kalau udah sampai sembilan, langsung teriak yeeeaaayyy..... Tanpa menghitung sampai sepuluh dulu. Begitulah dia merayakan keberhasilannya berhitung. Lucu ngitungnya pakai jemari yang ditekuk ngasal. Itu niru dari neneknya. Kalau didongengkan, ekspresi dia jauh lebih lebay dari saya. Ekspresi takut, seru, panik, dsb. Gemesin! Fatih, kubacakan puisi. Udah sering dibacain puisi, dia menyimak aja dengan baik. Didongengkan cerita juga kalem aja dengerin. ...

Day 4 Game Level #4

Ada rekaman pembacaan puisi oleh seorang anak di HP saya. Malam ini saya tunjukkan pada Fatih dan Thoriq. Reaksinya, bisa diduga. Fatih diam memerhatikan. Menyimak dengan serius, meski ketika ditanya puisi itu tentang apa, dia tidak begitu paham. Tak apa. Dia sudah sangat antusias untuk melihatnya. Thoriq sibuk bertanya. Ini dimana? Kapan? Siapa yang baca? Laki-laki atau perempuan? Sampai durasi videonya pun dia perhatikan. semoga saja kelak dia jadi wartawan. Hehe. Aaamiiin... Namun, Fatih merasa agak terganggu karena Thoriq ribut bertanya terus... Yah sepertinya dia suka suasana hening, tidak suka kebisingan. Setiap hari, selalu ada kejutan dari anak-anak. 

Day 3 Game Level #4

Tanggal: 22 April 2017 Aktivitas: Menggambar Saya perhatikan, biasanya kalau menggambar, Fatih tidak banyak tanya. Tinggal lakukan saja. Beres. Tak peduli gambarnya bagus atau tidak, bagi saya itu sudah sangat bagus. Hari ini, benar saja, saya minta Fatih menggambar rumah, dia langsung eksekusi. Sedangkan Thoriq tidak mau langsung mengganbar. Dia lihat dulu gambar Fatih. Jadi.. Fatih, cenderung kinestetis Thoriq, cenderung visual. Thoriq memang semakin menunjukkan tanda-tanda visual. Besok cari aktivitas lain untuk lebih mendetail pengamatannya.

Day 2 Level #4

Taraaaa..... Hari ini seru-seruan lagi sama bocah-bocah. Emang paling seneng baca cerita sih ya... Kalau kemarin cuma Fatih dan Thoriq, sekarang Kholid ikutan juga... Ada perbedaan nih dari kemarin. Fatih tetep yaaaa menyimak cerita dengan baik, tanpa interupsi. Sepertinya dia menikmati betul ceritanya. Kadang sih nengok buku, tapi biasa aja. Gak lebay. Thoriq nih yang heboh banget. Seperti kemarin, dia sibuk tanya ini apa itu apa. Ada gambar dia nanya ini apa. Terus, sambil menirukan apa yang saya ceritakan. Sepertinya, dia gak terlalu tertarik dengan isi cerita, tapi bagaimana saya bercerita. Saya biarkan saja. Thoriq memang paling banyak bicara. Jajan cilung aja dia sibuk nanya sama mamang pedagangnya. Ini apa? Bumbunya. Bumbunya buat apa. Dsb. Sibuk tanya terus.  Kholid, biasany dia malah lebih heboh menirukan gaya saya bercerita. Tapi tadi dia sibuk merobek-robek flashcard milik Fatih. Biasanya dia senang dengar cerita, hari ini tampak cuek saja. Yah, mungkin dia ngantuk...

Day 1 Level 4

Aktivitas hari ini, 20 April 2017 Membaca buku Fatih: Asyik mendengarkan, tanpa interupsi, tanpa menyela. Kalau mau bertanya, menunggu sampai saya selesai membacakannya. Sampai di sini, ini ciri auditori. Meski kadang ingin tahu gambar dalam buku tersebut. Berbeda dengan Fatih, Thoriq kebalikannya. Sedang dibacakan, dia tampak tidak begitu peduli apa yang kubacakan. Dia sibuk bertanya tentang gambar dalam buku. Ini apa? Itu apa? Ini kenapa begini? Kenapa begitu? Kok bisa? Dan sebagainya. Sambil dia karang-karang cerita sendiri. Dia lebih tertarik melihat keseluruhan isi buku, dibandingkan "apa sih" yang ada dalam buku itu. Oke, ini ciri anak visual. Pengamatan akan dilanjutkan besok.

Aliran Rasa #3

Family Project. Kedengarannya wah banget ya. Berasa seperti profesional gitu, lhah kan emang kita pengen jadi keluarga profesional. Yap! Keluarga kami begitu spontan, dan sangat suka kumpul. Komunikasi mengalir begitu saja. Kritik dan saran kami tanggapi dengan canda tawa. Mengerjakan project pun sesuai mood saja. Kalau semangat, ayo laksanakan saat itu juga. Kalau lelah, bisa dihentikan di tengah jalan. Habis itu leyeh-leyeh. Kalau tidak berminat sejak awal, segera cari alternatif kegiatan lain. Kadang saya merasa, apalah yang sudah saya kerjakan ini. Tugas dikerjakan tidak dengan semestinya. Melihat teman-teman mengerjakan begitu apik dan rapi. Lah saya? *nundukin kepala. Tapi tiap keluarga berbeda cara kan ya? Kebetulan saja keluarga kecil kami ini senangnya kumpul doang, wes pokoke kumpul. Dan satu lagi, suka jalan-jalan. Itu bisa disebut project juga kan? Siapa tahu, dari kecil sering diajak jalan-jalan, setelah dewasa nanti anak-anak senang berpetualang, menjelajah dunia se...

Day 10 Level 3

Rencana mendadak pagi ini adalah pergi ke Jakarta untuk mengikuti seminar yang diadakan INSIST yang bertema “Islamisasi Penulisan Sejarah”. Tema yang sangat menggiurkan kan? Maka setelah beres-beres dan goreng bakwan untuk suami, berangkatlah saya ke lokasi mobil elf mangkal. Teman saya sudah menunggu. Mobil kelamaan ngetem, ada 1,5 jam jadi kami memutuskan batal berangkat. Tidak akan terkejar sampai di Jakarta tepat waktu. Walhasil kami malah pergi ke perpustakaan. Lumayan, me time. Anak-anak dijaga abahnya. Mungkin main game di komputer. Kalau sudah main game pasti akur dan anteng sekali. Ketika saya pulang, Kholid sedang tidur dan dua kakaknya sudah bisa ditebak. Sedang main game. Hari ini pesanan sprei online datang. Anak-anak senang sekali dengan motif pilihan mereka sendiri: Doraemon. Mereka berebut membantu memasang. Bahkan ketika dicuci, dijemur, disetrika, mereka ikut membantu walaupun Cuma pegang-pegang. Alhamdulillah lumayan seru. Selain itu, sekadar kumpul ngobr...

Day 9 Level 3

Siang ini kumpul ba’da Jumatan. Kuusulkan membuat jelly kesukaan anak-anak. Segera ke warung membeli jelly powder dan gula. Mereka semangat sekali agar segera memulai masaknya. Bergantian mereka memasukkan bahan ke dalam panci, setelah itu bergantian pula mengaduknya di atas kompor. Barulah memasukkannya ke dalam cetakan favorit mereka. Padahal masih panas, sudah dimasukkan ke dalam lemari es. Saking ingin cepat keras dan bisa dimakan. Namun sudah waktunya mereka mandi dan berangkat ngaji di TPA. Jadi mereka bersiap-siap lalu berangkat bersama. Nanti ketika pulang, jellynya bisa langsung dinikmati. Serunya....membuat jelly bersama. Malah saya gak kebagian... Ludes dilahap mereka. Tapi alhamdulillah... Seneng ya kalau anak ngabisin makanan.

NHW 10

Sudah setahun saya bergabung dengan grup Institut Ibu Profesional, mengikuti setiap alurnya dan merasakan berbagai macam perubahan berupa pikiran dan perbuatan. Rasanya sungguh luar biasa, seperti ada badai di dalam otak dan hati saya. Menghancurkan pemikiran-pemikiran “buruk” sebelumnya. Tahun ini, kagetlah saya karena diamanahi sebagai PJ Menulis, juga admin FB. Bingung mau melakukan apa nantinya? Tapi Bismillah insya Allah saya akan melakukannya. Membuat Fanspage dan mengisinya satu persatu dengan tulisan resume kulwap dan macam-macam tulisan inspiratif terkait parenting dan kerumahranggaan. Dengan semakin banyak liker, diharapkan IIP bisa tersebar semakin luas. Agar semakin banyak ibu yang tercerahkan oleh ilmu-ilmu baru yang “badai” ini. Kelas menulis online pun dimulai dengan 21 peserta yang semuanya adalah pengurus serta member IIP yang telah mengikuti matrikulasi. Sudah dua bulan berjalan, dengan pembimbingnya Bu Tias Tatanka. Ke depannya, kelas menulis ini insya Allah ...

Day 8 Level 3

Tiba-tiba saya terbangun dari tidur, langsung jirap... Panik. Ini jam berapa? Udah solat Isya belum? Aduuh... Jadi panik begini, anak-anak sudah tidur semua... Dan ternyata ini sudah pukul 22.00, saya ingat-ingat ternyata belum sholat Isya. Yasudah sholat Isya dulu... Dan mengerjakan tugas hari ini. Hari yang biasa-biasa saja, tanpa family project lagi. Yah, rencananya mau bacain buku setelah sholat Isya, malah kebablasan ngASI sampai ketiduran. Kebiasaan banget. Memang, selama ini kegiatan ngASI seperti yang paling urgent dan paling menyita perhatian, sampai anak-anak yang lebih besar kurang terperhatikan. Sedangkan tidak selalu abah mereka menemani aktivitas harian mereka. Apalagi hari Kamis jadwal Fatih les sampai waktu menjelang Zuhur. Setelah Ashar waktunya mereka ngaji di TPA. Alhamdulillah Thoriq mau ngaji, sebelumnya dia enggan untuk berangkat. Malas betul. Sejak dibelikan tas baru, dia jadi semangat. Ada-ada saja. Karena belum ada kesepakatan mau ngapain besok, jadi sem...

Day 7 Level 3

Hari ini nyaris tidak ada family project. Sekadar main bersama, tanpa ada konsep. Sebenarnya anak-anak sudah lama minta ke kolam renang, tapi belum juga terlaksana. Padahal, Fatih sudah nabung sejak lama untuk tiket masuknya. Ditambah lagi dia sekolah, sayang kalau harus bolos. Jadi, membaca buku untuknya adalah pilihan yang dipilih. Buku hadits Arbain, lengkap dengan arti dan penjelasannya dengan bahas anak-anak. Lucunya, saat sampai pada bagian jangan berbuat keburukan, saya contohkan bohong, memukul teman dll. Dia pun menambahkan. “Marah-marah juga dosa lho.. Umu kan masih suka marah-marah....” Ha? Speechless saya. Anak-anak zaman sekarang alhamdulillah kritis sekali, menjadi pengingat bagi saya, orangtuanya. Alhamdulillah...

Day 6 Level 3

Pagi ini, kami telah bersiap-siap ke Cilegon, mengunjungi Mbah Uti yang berjualan sayuran di pasar Kranggot. Anak-anak senang sekali, karena bisa jajan. Eskrim dan bakso jadi favorit. Apalagi ditraktir Mbah Uti, mereka tambah senang. Asyiknya ke pasar itu bisa melihat banyak aktivitas jual beli. Bermacam-macam orang kumpul di sana. Anak-anak juga senang main timbangan punya Mbah Uti dan tidak dilarang. Biar pinter katanya. Menjelang Zuhur kami pulang. Istirahat kumpul bersama di kamar. Tiba-tiba terlintaslah sebuah ide dalam benak untuk ke alun-alun kecamatan sore nanti. Sekadar main mobil aki, pasti anak-anak senang. Sudah lama ngajak main itu, tapi tak pernah dituruti. Saya memang jarang mengajak mereka ke tempat hiburan macam itu. Bukan karena idealisme bla bla bla sih, tapi kalau sekali datang wah lembaran Soekarno Hatta bisa ludes dalam sekejap. Kan, sayang tuh. Tapi berhubung saya ada honor nulis yah sekali-sekali diajak kesana deh. Mereka senang sekali, tapi Kholid keta...

Day 5 Level 3

Hari yang cukup melelahkan, dan membuat ngantuk. Istirahat kurang, sementara yang harus diurus ada banyak. Belum bisa menghasilkan project yang keren sejauh ini. Masih rewang. Saya di dapur umum bersama ibu-ibu lainnya. Suami di depan, bersama bapak-bapak yang lain. Sementara anak-anak, yah, diajak menyaksikan akad nikah malah ribut semua minta balon, burung dan sebagainya. Jadilah pulang.... Nggak begitu khidmat menyaksikan akad nikah. Belum ada kesepakatan mau membuat apa. Tapi yang sudah kami agendakan besok kami sekeluarga insya Allah akan mengunjungi Mbah Uti (bude kami). Kalau ini anak-anak sudah terbiasa. Semoga silaturahim besok berjalan lancar...

Day 4 Level 3

Kami memulai hari ini dengan mendatangi majelis pengajian Ust Syafiq Riza Basalamah di masjid bakda Shubuh. Saya, Fatih dan Kholid bersiap. Karena hari Ahad jadwal karate Fatih, maka dia langsung pakai seragam karatenya. Kholid antusias memakai sandal kesayangannya. Tapi Thoriq tidak mau ikut, padahal acara ini sudah beberapa hari yang lalu dibahas. Dia lebih suka diam di rumah memang. Sementara Abah sudah stand by di masjid sebagai panitia. Kami berjalan dengan riang, sampai di masjid sudah penuh jamaah. Alhamdulillah masih kebagian tempat. Anak-anak juga relatif anteng mendengarkan taushiyah ustad. Selesai sekira pukul tujuh pagi, Fatih bersiap latihan. Kali ini latihannya di gunung Pinang. Bekal dibawa dalam tasnya. Semangat sekali berangkatnya. Sementara saya, agak siang kembali ikut rewang tetangga. Besok pasti sangat sibuk, hari H.  Anak-anak dijaga abahnya. Alhamdulillah aman. Menjelang zuhur saya pun istirahat bersama anak-anak. Mereka hanya bisa mengerti, tidak bisa ...

Day 3 Level 3

Hari kedua rewang, diawali dengan pagi yang ceria. Saya bantu ngupas singkong barang sejenak dan anak-anak bermain bersama di halaman. Namanya saja anak-anak, kalau sudah kumpul kadang ada saja kehebohan. Akurnya tak sampai setengah jam, selebihnya terlibat konflik dalam negeri. Thoriq dan Dira, entah berebut apa, yang menyebabkan keduanya saling berteriak. Saat itu, saya sedang memasak pepes tahu, tiba-tiba saja sudah terdengar tangisan Dira. Dia telah digigit, bagian lengannya sampai merah. Thoriq pun kutegur. “Kenapa digigit? Kalau main sama-sama dong...” Eh malah Thoriq nangis kenceng. Begitulah bila dia merasa bersalah. Alhasil, sepanjang hari ini saya tidak ikut bantu-bantu tetangga. Full mengawasi anak-anak sendiri yang ditinggal sekian menit saja sudah seperti Tom & Jerry. Masalahnya ada pada Kholid yang mulai jail. Colak-colek kakaknya, kadang nyoleknya kebablasan jadi nyubit atau menjambak. Dipisah, mendekat lagi. Sering saya ingatkan kakaknya, kalau Kholid mulai...

Day 2 Level 3

Family Project hari ini adalah rewang, yakni membantu tetangga yang sedang ada hajatan. Banyak yang membantu sehingga pekerjaan cepat selesai. Anak-anak biasanya tidak bisa lepas dari ibunya, tapi dalam situasi begini syukurlah mereka bisa mengerti. “Aa jagain adik-adik ya... “ pesanku. “Iya Mu...” Selagi saya sibuk-sibuk di dapur umum, anak-anak bermain bersama. Suami ikut membantu memasang terpal bersama bapak-bapak yang lain. Kegiatan seperti ini sangat bagus, menandakan bahwa masyarakat pedesaan selalu bergotong-royong saling bantu tetangganya yang hajatan maupun tertimpa musibah. Anak-anak yang melihatnya pun akan mengingat hal itu sebagai kesan yang tertanam dalam ingatan bahwa hidup bertetangga harus saling membantu. Kelak mereka akan mencontohnya terhadap tetangga mereka.

Day 1 Game Level 3

Family Project. Kedengarannya berat, meskipun sebenarnya sudah sering melakukan banyak hal seru bersama. Tapi baiklah, akan saya coba mendokumentasikannya. Siang ini, anak-anak pada asyik main game sendiri. Mulailah saya ajak suami untuk membuat sebuah gambar, lalu anak-anak yang mewarnainya. Karena anak ada tiga dan laki-laki semua, udah pasti membuat gambarnya juga harus tiga. Biar adil. Tugas saya adalah mengondisikan agar suasana berjalan lancar penuh kedamaian. Menit-menit pertama lancar, semua sibuk dengan gambarnya masing-masing. Lalu mulailah Kholid si 2 tahun usil. Nyoret gambar kakaknya. Nah di sinilah tampak Emotional Quotient Fatih si sulung 7 tahun belum begitu bagus. Dia marah ketika gambarnya “dipercantik” oleh adiknya. Menurutnya, dia sudah berusaha keras sampai capek demi bisa mewarnai gambarnya tapi adiknya usil. Jadi deh melerai dan mendamaikan mereka dulu. Berkali-kali begitu, yasudah jadinya malah kisruh. Kholid minta maaf ke Aa, tapi Fatih belum sudi memaafkan...

Aliran Rasa #2

Kemandirian adalah pembiasaan yang dilandasi kesadaran. Bisa berdiri di atas kaki sendiri tanpa dipapah atau dituntun orang lain merupakan sesuatu yang tidak muncul dengan sendirinya. Harus ada usaha, kemauan dan terus berusaha. Andaikata hari ini kita melihat seorang remaja mengamuk karena tidak dibelikan sesuatu seperti motor dan HP baru  oleh oerangtuanya, maka jangan dulu salahkan anaknya. Lihat sudah sejauh mana orangtuanya memandirikan anak tersebut. Sebab, perilaku meminta sesuatu kepada orang lain adalah salah satu sikap manja, tidak mandiri. Selalu ingin dituruti keinginannya tanpa peduli bagaimana caranya. Sungguhpun kondisi orang yang diminta itu kesulitan. Bagaikan menanam pohon, tak mungkin pohon itu langsung berbuah lebat saat pertama kali kita menanamnya. Banyak proses yang harus dilalui, mulai dari menanamnya, menyiraminya, memberinya pupuk, sampai menyianginya dari hama. Butuh perjalanan panjang yang tak jarang melelahkan. Begitu juga dalam mendidik anak. Tidak...

Day 10

Kemandirian Aa yang ingin saya latih adalah mau pergi ke masjid tanpa harus diingatkan. Sebab selama ini kalau sudah masuk waktu sholat, masih suka diingatkan supaya bergegas pergi ke masjid. Hal yang sangat membantu adalah jika teman-temannya bersemangat, sampai menjemput ke rumah sebelum waktu azan tiba. Apalagi, Pak Ustadnya sering memotivasi anak-anak supaya rajin solat berjamaah dan mengaji di masjid. Akan tetapi, namanya anak-anak, kadang malas untuk berangkat. Kadang mengulur waktu. Ya dimaklumi dulu, ini baru 7 tahun. Ada waktu 3 tahun mendidiknya sholat. Terutama sholat Shubuh yang terasa sangat berat. Membangunkannya butuh perjuangan. Kita belajar lagi besok, besok dan besok seterusnya ya Aa...

Aku Bisa Makan Sendiri

Memandirikan anak itu seperti main layangan. Bersabar menunggu angin bertiup kencang. Harus bisa tarik ulur pada saat yang tepat. Tak mungkin layangan itu mampu terbang sendiri tanpa kita bantu. Adakalanya anak merasa bosan, malas, dan ingin dimanja. Kemarin malam Kakak minta makan. Saya ambilkan, tapi saya suruh dia makan sendiri. Awalnya dia nggak mau, karena dia maunya dilayani. Tapi saya katakan, “Kalau Ummu makan, Ummu makan pakai tangan sendiri. Bukan dengan tangan orang lain. Jadi kamu juga harus makan pakai tangan sendiri.” Dia merengut, tapi perlahan dimakannya juga sendiri  Kuacungi jempol dan dia terus melahapnya sampai habis. Nah ternyata kalau dia benar-benar lapar, dia mau makan sendiri yah  Jadi sebenarnya nggak perlu dipaksa atau dibujuk biar mau makan. Semoga bisa berlanjut makan sendiri ya Kak...

Day 8 Keberhasilan Toilet Training

Toilet training adalah salah satu bentuk kemandirian yang harus bisa Dedek lakukan. Selama empat hari saya tinggalkan, kerap saya bertanya pada abahnya apakah semalam Dedek ngompol? Pakai diapers kah? Ketika jawabannya tidak ngompol dan tidak pakai diapers rasanya itu menyenangkan. Itu tandanya Dedek sudah bisa mandiri dalam mengontrol hasrat buang airnya. Intinya pembiasaan sih. Kalau dibiasakan untuk buang air secara benar, maka anak akan mengikuti. Lain halnya jika mereka dibiarkan saja buang air sembarangan. Di semak-semak, di pinggir jalan, bahkan di halaman rumah. Hal-hal yang baik itu harus dibiasakan. Supaya mereka secara otomatis alam bawah sadarnya menuntun mereka berbuat baik. Serta merasa tidak nyaman jika melakukan perbuatan yang tidak baik. Meskipun di awal-awal terasa berat, repot, tapi kalau sudah jalan sendiri kita sebagai orangtua akan merasa nyaman. Lelah-lelah dulu saat mereka kecil, kelak jika mereka dewasa dan mandiri, kita tidak lagi berlelah-lelah untuk pe...

Day 7 Mandiri Tanpa Ummu

Sudah dua hari saya meninggalkan rumah untuk belajar di luar kota mengikuti workshop. Rasanya kangen pada anak-anak. Saat sudah luang dan menelepon rumah adalah saat yang menyenangkan. Bisa mendengar cerita tentang anak-anak itu sudah lega. Malam ini, diceritakanlah bagaimana mandirinya anak-anak tanpa kehadiran saya. Padahal kalau ada saya, sudah pasti pada manja. Malah saya jadi berpikir jangan-jangan sebaiknya mereka sering ditinggal agar bisa mandiri? Hehe... Mulai dari Aa, dia yang rajin ke masjid untuk salat berjamaah lima waktu lanjut mengaji. Sekolah tidak diantar dan tidak dijemput (macem Jalangkung aja nih). Aduhhh rasanya bangga deh sama Aa karena mau melakukannya sendiri.  Kakak juga mandiri, mau sekolah meskipun saya tidak menemaninya. Memang sih, seharian ini dia nelpon terus meski dia nggak ngomong. Kangen banget kayaknya. Kakak juga bikin bangga ih, karena rajin sekolah TPAnya... Dan Dedek, yang belum lepas ASI. Memang yang paling memberatkan. Namun mau baga...

Day 6 Melatih Kemandirian

Agak berat sebenarnya saya tinggalkan keluarga di rumah untuk memgikuti acara Bimtek selama empat hari ke depan. Selama ini anak-anak sangat dekat dengan saya, jadi begitu ditinggalkan, kasihan sekali... Namun, ketika ada kesempatan maka tidak boleh disia-siakan. Lanjut saja ikutan. Suami pun mengatakan, “Umu di situ tenang aja. Anak-anak Abah yang handle” Wah... Meleleh deh rasanya. Begitu pengertiannya demi istri yang sedang menambah ilmu kepenulisan ini. Entah bagaimana caranya di rumah mengatasi kehebohan tiga bocah yang sering ribut itu. Saya harus fokus di sini, sehingga optimal dan ilmunya bermanfaat. Sekali-sekali biarkan suami mandiri tanpa kehadiran istri. Dan anggap saja ini “me time” yang seru.

Day 5 Melatih Kemandirian

Aku tidak tahu mengapa, sejak menikah aku menjadi sangat manja. Apa-apa minta dibantu suami, kemana-mana minta dianter suami. Padahal dulu waktu masih single, aku merasa strong. Mau kemana aja, ngapain aja, bisa sendiri. Setelah menikah kok kayak ketergantungan gini sama suami. Akibatnya jadi tidak baik. Aku jadi tidak bisa apa-apa kalau suami tak ada. Rasanya ada yang kurang lengkap. Ibarat sayap, patah sebelah. Terbangnya jadi miring.  Padahal suami juga sibuk. Tapi saya repotin terus terutama mau pergi ke suatu tempat. Suami sih oke oke aja selagi bisa. Namun kadang aku ngambek kalau suami tidak mau mengantarkan, atau lupa pada janjinya. Sore ini aku ada janji dengan teman di alun-alun, mau meminjam sesuatu. Bismillah, aku mau naik angkot aja. Suami menawarkan untuk mengantar, tapi aku harus berani tidak merepotkannya. Lagipula anak-anak sekolah TPA siapa yang jemput nantinya? Aku pun berangkat sendirian, bawa payung karena langit sangat mendung. Dan pergi sendirian rasany...

Aa Bisa Nyetrika

Pekerjaan yang paling malas saya lakukan itu menyetrika. Rasanya membosankan duduk terus dengan aktivitas yang terlalu monoton. Apalagi kalau pakaian yang harus disetrika ada banyak. Pegal deh. Lalu, mengapa tidak saya berdayakan saja Aa? Dia kan sudah 7 tahun. Sudah waktunya mandiri. Dan dia sendiri yang meminta untuk dibolehkan menyetrika. Okelah. Pakaian besar dan kecil saya pisahkan. Yang besar itu jatah saya, pakaian kecil yakni pakaian Aa sendiri disetrikanya sendiri. Dia duduk dengan gayanya sendiri. Saya tinggalkan untuk mengerjakan hal yang lain. Sambil sesekali saya awasi dan memberinya instruksi cara menyetrika dan melipat pakaiannya. Ternyata menyenangkan sekali ya. Aktivitas ini bisa membuat anak senang, dan bundanya juga terbantu. Saya membayangkan, andai anak tidak dilatih untuk mengerjakan pekerjaan rumah, niscaya dia akan manja. Yang untuk keperluannya saja harus dilayani. Selain itu kita akan capek sampai tua kalau tidak memandirikan anak. Semangat terus ya Aa. B...

Tentang Aa dan Kakak

Sebagai sulung, Aa sayang kepada dua orang adiknya. Kadang sih sedikit usil, yang membuat Kakak dan Dedek menangis. Beginilah serunya punya anak tiga, kalau mereka main akur ya syukur. Kalau pas lagi ribut saya tambah mumet. Seperti siang ini, Aa dan Kakak pergi salat Zuhur bersama. Selang berapa jam belum pulang juga. Kayaknya di rumah Rehan deh, karena biasanya sepulang salat suka main kesana. Namun sampai Asar tak juga mereka pulang. Jadi bingung.  Dicari di rumah Rehan ternyata tidak ada. Di rumah temannya yang lain juga tak ada. Kemana ini? Tak disangka ternyata mainnya ke rumah teman TPA Kakak. Berani amat padahal rumahnya cukup jauh. Aa itu pelopor, Kakak pengikut. Aa itu mencontohkan, Kakak meniru. Jika Aa kalem, pasti Kakak yang dasarnya anteng itu gak mau gerak sama sekali. Kadang saya merasa, Aa ini lebih cepat dewasa. Mandiri main sendiri, kadang mengajak adiknya main. Itu sangat membantu saya dalam mengerjakan tugas domestik maupun mengurusi Dedek. Hanya, memand...

Ngompol

Rasanya beginilah kalau anak ngompol, jejaknya bisa terlihat dari banyaknya cucian. Untung pakai perlak, jadi bisa sedikit memudahkan. Sebenernya kalau mau sedikit repot, tengah malam bangunin supaya anak mau pipis. Tapi saya kesusahan kalau bangun tengah malam. Udah capek banget... Tapi pengalaman dari dua kakaknya, ngompol bisa terjadi kalau sebelum tidur nggak pipis dulu. Bisa juga karena minum terlalu banyak. Minum susu malam juga bisa bikin ngompol. Bahayanya kalau sudah besar ngompol itu (walau kadang sih) kasurnya basah semua. Baunya pesing banget. Mending aja kalau panas terik, kalau mendung mau jemur pakai apa? Semangat terus toilet trainingnya Dek! #Level2 #KuliahBunSayIIP #MelatihKemandirian

Toilet Training Itu Mudah

Khalid (1y9m) sedang belajar Toilet Training. Sebelumnya pakai diapers aja yang membuat saya sering hunting diapers murah online. Tapi rempong juga kalau setiap bulan ngeluarin budget beli diapers. Yah walaupun pakenya Cuma malam sih, dengan alasan supaya gak repot gantiin popok bekas ompolnya karena capek seharian ngurus kerjaan rumah. Jadi nekad deh, gak pake diapers. Khawatir juga sih, gimana kalau nanti ngompol membasahi seluruh kasur. Dan ternyata iya. Hehe. Jadi deh beberapa hari nyuci seprai terus. Ini udah ada lima hari dia tidur malamnya gak ngompol sama sekali. Apa karena sebelum tidur sudah ditatur ya? Bangun tidur juga langsung ditatur. Siang hari dia sudah bisa bilang “pis” dan “ee” maka itu pertanda harus segera dibawa ke kamar mandi. Khalid masih perlu belajar supaya bisa menempatkan antara keinginan mau pipisnya, atau Cuma ingin main air. Atau karena latah lihat Aa dan Kakak mandi jadi ikutan pingin mandi juga. #Level2 #KuliahBunSayIIP #MelatihKemandirian

Aliran Rasa "Komunikasi Produktif"

Saya ingat dulu saat awal menikah, komunikasi dengan suami buruk sekali. Banyak silangnya. Apa yang ingin diungkapkan, berbeda dengan yang ditampakkan. Lebih banyak ngambeknya malah. Dan “permainan otak” ala perempuan pun sering terjadi. Dikit-dikit ngambek, mogok bicara, parahnya lagi kalau cemburu, sampe banting pintu juga suami nggak paham. Capek juga kayak gini terus. Laki-laki dan perempuan itu beda. Kita mau ngambek 1000 tahun juga gak bakalan kelar masalah. Jadi daripada minta dimengerti terus, saya aja deh yang “vulgar”.  Jebred jebred aja saya ungkapkan. “Saya cemburu sama dia karena Abang cerita tentang dia.” “Saya kesal karena Abang pulang terlambat.” “Saya marah karena saya lapar. Jadi saya mau makan dulu “ Sejauh ini sih alhamdulillah udah jarang ngambek. Kalau lagi kesel banget emang iya masih pake silent treatment tapi gak lama setelah itu jujur masalahnya apa. Kami pun jadi jarang bertengkar.. Karena terjadi komunikasi yang “nyambung” secara logika. Ud...