Aku pernah mencoba bisnis mainan edukasi, awal-awal berjalan lancar. Pemasukan dan pengeluaran tercatat rapi. Sampai resi pengiriman pun disimpan dengan baik. Tapi itu hanya di awal, makin lama makin kacau. Tak pernah mencatat, uang dipakai sembarangan, ahh… benar-benar tidak cerdas. Sebab itulah kalau ada godaan untuk membuka usaha, selalu tenggelam lagi. Sudahlah, malas rasanya bermain-main dengan bisnis. Sementara saya sadari bahwa kemampuan saya bukan di bidang itu.
Memang benar ya, belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air. Kerasa banget bedanya. Contohnya saja belajar menghafal Quran, banyak banget yang kelewat atau lupa. Fa dan Wa sering ketuker. Haduuuh... Kalau anak-anak cepat sekali belajarnya. Meskipun begitu, saya tak mau menyerah. Menghafal sehari satu ayat dengan metode Kauny. Menghafal Quran semudah tersenyum. Pakai gerakan tangan. Fatih diajari, agak malas dia pakai gerakan tangan. Tapi dia dengerin dan bisa. Belakangan saya ragu, dia ini auditori atau kinestetik? Kholid, 2 tahun. Paling semangat kalau pakai gerakan tangan. Baginya seperti permainan. Jadi minta diulang terus sampai bosan. Lalu aktif dengan permainan lain. Thoriq lebih banyak "gak mau laaaah" kalau diajak ngafalin bareng. Hehe. . Lika liku bermain dan belajar bersama anak.
Komentar
Posting Komentar