Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

Day 9 Level 3

Siang ini kumpul ba’da Jumatan. Kuusulkan membuat jelly kesukaan anak-anak. Segera ke warung membeli jelly powder dan gula. Mereka semangat sekali agar segera memulai masaknya. Bergantian mereka memasukkan bahan ke dalam panci, setelah itu bergantian pula mengaduknya di atas kompor. Barulah memasukkannya ke dalam cetakan favorit mereka. Padahal masih panas, sudah dimasukkan ke dalam lemari es. Saking ingin cepat keras dan bisa dimakan. Namun sudah waktunya mereka mandi dan berangkat ngaji di TPA. Jadi mereka bersiap-siap lalu berangkat bersama. Nanti ketika pulang, jellynya bisa langsung dinikmati. Serunya....membuat jelly bersama. Malah saya gak kebagian... Ludes dilahap mereka. Tapi alhamdulillah... Seneng ya kalau anak ngabisin makanan.

NHW 10

Sudah setahun saya bergabung dengan grup Institut Ibu Profesional, mengikuti setiap alurnya dan merasakan berbagai macam perubahan berupa pikiran dan perbuatan. Rasanya sungguh luar biasa, seperti ada badai di dalam otak dan hati saya. Menghancurkan pemikiran-pemikiran “buruk” sebelumnya. Tahun ini, kagetlah saya karena diamanahi sebagai PJ Menulis, juga admin FB. Bingung mau melakukan apa nantinya? Tapi Bismillah insya Allah saya akan melakukannya. Membuat Fanspage dan mengisinya satu persatu dengan tulisan resume kulwap dan macam-macam tulisan inspiratif terkait parenting dan kerumahranggaan. Dengan semakin banyak liker, diharapkan IIP bisa tersebar semakin luas. Agar semakin banyak ibu yang tercerahkan oleh ilmu-ilmu baru yang “badai” ini. Kelas menulis online pun dimulai dengan 21 peserta yang semuanya adalah pengurus serta member IIP yang telah mengikuti matrikulasi. Sudah dua bulan berjalan, dengan pembimbingnya Bu Tias Tatanka. Ke depannya, kelas menulis ini insya Allah ...

Day 8 Level 3

Tiba-tiba saya terbangun dari tidur, langsung jirap... Panik. Ini jam berapa? Udah solat Isya belum? Aduuh... Jadi panik begini, anak-anak sudah tidur semua... Dan ternyata ini sudah pukul 22.00, saya ingat-ingat ternyata belum sholat Isya. Yasudah sholat Isya dulu... Dan mengerjakan tugas hari ini. Hari yang biasa-biasa saja, tanpa family project lagi. Yah, rencananya mau bacain buku setelah sholat Isya, malah kebablasan ngASI sampai ketiduran. Kebiasaan banget. Memang, selama ini kegiatan ngASI seperti yang paling urgent dan paling menyita perhatian, sampai anak-anak yang lebih besar kurang terperhatikan. Sedangkan tidak selalu abah mereka menemani aktivitas harian mereka. Apalagi hari Kamis jadwal Fatih les sampai waktu menjelang Zuhur. Setelah Ashar waktunya mereka ngaji di TPA. Alhamdulillah Thoriq mau ngaji, sebelumnya dia enggan untuk berangkat. Malas betul. Sejak dibelikan tas baru, dia jadi semangat. Ada-ada saja. Karena belum ada kesepakatan mau ngapain besok, jadi sem...

Day 7 Level 3

Hari ini nyaris tidak ada family project. Sekadar main bersama, tanpa ada konsep. Sebenarnya anak-anak sudah lama minta ke kolam renang, tapi belum juga terlaksana. Padahal, Fatih sudah nabung sejak lama untuk tiket masuknya. Ditambah lagi dia sekolah, sayang kalau harus bolos. Jadi, membaca buku untuknya adalah pilihan yang dipilih. Buku hadits Arbain, lengkap dengan arti dan penjelasannya dengan bahas anak-anak. Lucunya, saat sampai pada bagian jangan berbuat keburukan, saya contohkan bohong, memukul teman dll. Dia pun menambahkan. “Marah-marah juga dosa lho.. Umu kan masih suka marah-marah....” Ha? Speechless saya. Anak-anak zaman sekarang alhamdulillah kritis sekali, menjadi pengingat bagi saya, orangtuanya. Alhamdulillah...

Day 6 Level 3

Pagi ini, kami telah bersiap-siap ke Cilegon, mengunjungi Mbah Uti yang berjualan sayuran di pasar Kranggot. Anak-anak senang sekali, karena bisa jajan. Eskrim dan bakso jadi favorit. Apalagi ditraktir Mbah Uti, mereka tambah senang. Asyiknya ke pasar itu bisa melihat banyak aktivitas jual beli. Bermacam-macam orang kumpul di sana. Anak-anak juga senang main timbangan punya Mbah Uti dan tidak dilarang. Biar pinter katanya. Menjelang Zuhur kami pulang. Istirahat kumpul bersama di kamar. Tiba-tiba terlintaslah sebuah ide dalam benak untuk ke alun-alun kecamatan sore nanti. Sekadar main mobil aki, pasti anak-anak senang. Sudah lama ngajak main itu, tapi tak pernah dituruti. Saya memang jarang mengajak mereka ke tempat hiburan macam itu. Bukan karena idealisme bla bla bla sih, tapi kalau sekali datang wah lembaran Soekarno Hatta bisa ludes dalam sekejap. Kan, sayang tuh. Tapi berhubung saya ada honor nulis yah sekali-sekali diajak kesana deh. Mereka senang sekali, tapi Kholid keta...

Day 5 Level 3

Hari yang cukup melelahkan, dan membuat ngantuk. Istirahat kurang, sementara yang harus diurus ada banyak. Belum bisa menghasilkan project yang keren sejauh ini. Masih rewang. Saya di dapur umum bersama ibu-ibu lainnya. Suami di depan, bersama bapak-bapak yang lain. Sementara anak-anak, yah, diajak menyaksikan akad nikah malah ribut semua minta balon, burung dan sebagainya. Jadilah pulang.... Nggak begitu khidmat menyaksikan akad nikah. Belum ada kesepakatan mau membuat apa. Tapi yang sudah kami agendakan besok kami sekeluarga insya Allah akan mengunjungi Mbah Uti (bude kami). Kalau ini anak-anak sudah terbiasa. Semoga silaturahim besok berjalan lancar...

Day 4 Level 3

Kami memulai hari ini dengan mendatangi majelis pengajian Ust Syafiq Riza Basalamah di masjid bakda Shubuh. Saya, Fatih dan Kholid bersiap. Karena hari Ahad jadwal karate Fatih, maka dia langsung pakai seragam karatenya. Kholid antusias memakai sandal kesayangannya. Tapi Thoriq tidak mau ikut, padahal acara ini sudah beberapa hari yang lalu dibahas. Dia lebih suka diam di rumah memang. Sementara Abah sudah stand by di masjid sebagai panitia. Kami berjalan dengan riang, sampai di masjid sudah penuh jamaah. Alhamdulillah masih kebagian tempat. Anak-anak juga relatif anteng mendengarkan taushiyah ustad. Selesai sekira pukul tujuh pagi, Fatih bersiap latihan. Kali ini latihannya di gunung Pinang. Bekal dibawa dalam tasnya. Semangat sekali berangkatnya. Sementara saya, agak siang kembali ikut rewang tetangga. Besok pasti sangat sibuk, hari H.  Anak-anak dijaga abahnya. Alhamdulillah aman. Menjelang zuhur saya pun istirahat bersama anak-anak. Mereka hanya bisa mengerti, tidak bisa ...

Day 3 Level 3

Hari kedua rewang, diawali dengan pagi yang ceria. Saya bantu ngupas singkong barang sejenak dan anak-anak bermain bersama di halaman. Namanya saja anak-anak, kalau sudah kumpul kadang ada saja kehebohan. Akurnya tak sampai setengah jam, selebihnya terlibat konflik dalam negeri. Thoriq dan Dira, entah berebut apa, yang menyebabkan keduanya saling berteriak. Saat itu, saya sedang memasak pepes tahu, tiba-tiba saja sudah terdengar tangisan Dira. Dia telah digigit, bagian lengannya sampai merah. Thoriq pun kutegur. “Kenapa digigit? Kalau main sama-sama dong...” Eh malah Thoriq nangis kenceng. Begitulah bila dia merasa bersalah. Alhasil, sepanjang hari ini saya tidak ikut bantu-bantu tetangga. Full mengawasi anak-anak sendiri yang ditinggal sekian menit saja sudah seperti Tom & Jerry. Masalahnya ada pada Kholid yang mulai jail. Colak-colek kakaknya, kadang nyoleknya kebablasan jadi nyubit atau menjambak. Dipisah, mendekat lagi. Sering saya ingatkan kakaknya, kalau Kholid mulai...

Day 2 Level 3

Family Project hari ini adalah rewang, yakni membantu tetangga yang sedang ada hajatan. Banyak yang membantu sehingga pekerjaan cepat selesai. Anak-anak biasanya tidak bisa lepas dari ibunya, tapi dalam situasi begini syukurlah mereka bisa mengerti. “Aa jagain adik-adik ya... “ pesanku. “Iya Mu...” Selagi saya sibuk-sibuk di dapur umum, anak-anak bermain bersama. Suami ikut membantu memasang terpal bersama bapak-bapak yang lain. Kegiatan seperti ini sangat bagus, menandakan bahwa masyarakat pedesaan selalu bergotong-royong saling bantu tetangganya yang hajatan maupun tertimpa musibah. Anak-anak yang melihatnya pun akan mengingat hal itu sebagai kesan yang tertanam dalam ingatan bahwa hidup bertetangga harus saling membantu. Kelak mereka akan mencontohnya terhadap tetangga mereka.

Day 1 Game Level 3

Family Project. Kedengarannya berat, meskipun sebenarnya sudah sering melakukan banyak hal seru bersama. Tapi baiklah, akan saya coba mendokumentasikannya. Siang ini, anak-anak pada asyik main game sendiri. Mulailah saya ajak suami untuk membuat sebuah gambar, lalu anak-anak yang mewarnainya. Karena anak ada tiga dan laki-laki semua, udah pasti membuat gambarnya juga harus tiga. Biar adil. Tugas saya adalah mengondisikan agar suasana berjalan lancar penuh kedamaian. Menit-menit pertama lancar, semua sibuk dengan gambarnya masing-masing. Lalu mulailah Kholid si 2 tahun usil. Nyoret gambar kakaknya. Nah di sinilah tampak Emotional Quotient Fatih si sulung 7 tahun belum begitu bagus. Dia marah ketika gambarnya “dipercantik” oleh adiknya. Menurutnya, dia sudah berusaha keras sampai capek demi bisa mewarnai gambarnya tapi adiknya usil. Jadi deh melerai dan mendamaikan mereka dulu. Berkali-kali begitu, yasudah jadinya malah kisruh. Kholid minta maaf ke Aa, tapi Fatih belum sudi memaafkan...

Aliran Rasa #2

Kemandirian adalah pembiasaan yang dilandasi kesadaran. Bisa berdiri di atas kaki sendiri tanpa dipapah atau dituntun orang lain merupakan sesuatu yang tidak muncul dengan sendirinya. Harus ada usaha, kemauan dan terus berusaha. Andaikata hari ini kita melihat seorang remaja mengamuk karena tidak dibelikan sesuatu seperti motor dan HP baru  oleh oerangtuanya, maka jangan dulu salahkan anaknya. Lihat sudah sejauh mana orangtuanya memandirikan anak tersebut. Sebab, perilaku meminta sesuatu kepada orang lain adalah salah satu sikap manja, tidak mandiri. Selalu ingin dituruti keinginannya tanpa peduli bagaimana caranya. Sungguhpun kondisi orang yang diminta itu kesulitan. Bagaikan menanam pohon, tak mungkin pohon itu langsung berbuah lebat saat pertama kali kita menanamnya. Banyak proses yang harus dilalui, mulai dari menanamnya, menyiraminya, memberinya pupuk, sampai menyianginya dari hama. Butuh perjalanan panjang yang tak jarang melelahkan. Begitu juga dalam mendidik anak. Tidak...

Day 10

Kemandirian Aa yang ingin saya latih adalah mau pergi ke masjid tanpa harus diingatkan. Sebab selama ini kalau sudah masuk waktu sholat, masih suka diingatkan supaya bergegas pergi ke masjid. Hal yang sangat membantu adalah jika teman-temannya bersemangat, sampai menjemput ke rumah sebelum waktu azan tiba. Apalagi, Pak Ustadnya sering memotivasi anak-anak supaya rajin solat berjamaah dan mengaji di masjid. Akan tetapi, namanya anak-anak, kadang malas untuk berangkat. Kadang mengulur waktu. Ya dimaklumi dulu, ini baru 7 tahun. Ada waktu 3 tahun mendidiknya sholat. Terutama sholat Shubuh yang terasa sangat berat. Membangunkannya butuh perjuangan. Kita belajar lagi besok, besok dan besok seterusnya ya Aa...

Aku Bisa Makan Sendiri

Memandirikan anak itu seperti main layangan. Bersabar menunggu angin bertiup kencang. Harus bisa tarik ulur pada saat yang tepat. Tak mungkin layangan itu mampu terbang sendiri tanpa kita bantu. Adakalanya anak merasa bosan, malas, dan ingin dimanja. Kemarin malam Kakak minta makan. Saya ambilkan, tapi saya suruh dia makan sendiri. Awalnya dia nggak mau, karena dia maunya dilayani. Tapi saya katakan, “Kalau Ummu makan, Ummu makan pakai tangan sendiri. Bukan dengan tangan orang lain. Jadi kamu juga harus makan pakai tangan sendiri.” Dia merengut, tapi perlahan dimakannya juga sendiri  Kuacungi jempol dan dia terus melahapnya sampai habis. Nah ternyata kalau dia benar-benar lapar, dia mau makan sendiri yah  Jadi sebenarnya nggak perlu dipaksa atau dibujuk biar mau makan. Semoga bisa berlanjut makan sendiri ya Kak...

Day 8 Keberhasilan Toilet Training

Toilet training adalah salah satu bentuk kemandirian yang harus bisa Dedek lakukan. Selama empat hari saya tinggalkan, kerap saya bertanya pada abahnya apakah semalam Dedek ngompol? Pakai diapers kah? Ketika jawabannya tidak ngompol dan tidak pakai diapers rasanya itu menyenangkan. Itu tandanya Dedek sudah bisa mandiri dalam mengontrol hasrat buang airnya. Intinya pembiasaan sih. Kalau dibiasakan untuk buang air secara benar, maka anak akan mengikuti. Lain halnya jika mereka dibiarkan saja buang air sembarangan. Di semak-semak, di pinggir jalan, bahkan di halaman rumah. Hal-hal yang baik itu harus dibiasakan. Supaya mereka secara otomatis alam bawah sadarnya menuntun mereka berbuat baik. Serta merasa tidak nyaman jika melakukan perbuatan yang tidak baik. Meskipun di awal-awal terasa berat, repot, tapi kalau sudah jalan sendiri kita sebagai orangtua akan merasa nyaman. Lelah-lelah dulu saat mereka kecil, kelak jika mereka dewasa dan mandiri, kita tidak lagi berlelah-lelah untuk pe...

Day 7 Mandiri Tanpa Ummu

Sudah dua hari saya meninggalkan rumah untuk belajar di luar kota mengikuti workshop. Rasanya kangen pada anak-anak. Saat sudah luang dan menelepon rumah adalah saat yang menyenangkan. Bisa mendengar cerita tentang anak-anak itu sudah lega. Malam ini, diceritakanlah bagaimana mandirinya anak-anak tanpa kehadiran saya. Padahal kalau ada saya, sudah pasti pada manja. Malah saya jadi berpikir jangan-jangan sebaiknya mereka sering ditinggal agar bisa mandiri? Hehe... Mulai dari Aa, dia yang rajin ke masjid untuk salat berjamaah lima waktu lanjut mengaji. Sekolah tidak diantar dan tidak dijemput (macem Jalangkung aja nih). Aduhhh rasanya bangga deh sama Aa karena mau melakukannya sendiri.  Kakak juga mandiri, mau sekolah meskipun saya tidak menemaninya. Memang sih, seharian ini dia nelpon terus meski dia nggak ngomong. Kangen banget kayaknya. Kakak juga bikin bangga ih, karena rajin sekolah TPAnya... Dan Dedek, yang belum lepas ASI. Memang yang paling memberatkan. Namun mau baga...