Langsung ke konten utama

Day 8 Keberhasilan Toilet Training

Toilet training adalah salah satu bentuk kemandirian yang harus bisa Dedek lakukan. Selama empat hari saya tinggalkan, kerap saya bertanya pada abahnya apakah semalam Dedek ngompol? Pakai diapers kah? Ketika jawabannya tidak ngompol dan tidak pakai diapers rasanya itu menyenangkan. Itu tandanya Dedek sudah bisa mandiri dalam mengontrol hasrat buang airnya.

Intinya pembiasaan sih. Kalau dibiasakan untuk buang air secara benar, maka anak akan mengikuti. Lain halnya jika mereka dibiarkan saja buang air sembarangan. Di semak-semak, di pinggir jalan, bahkan di halaman rumah.

Hal-hal yang baik itu harus dibiasakan. Supaya mereka secara otomatis alam bawah sadarnya menuntun mereka berbuat baik. Serta merasa tidak nyaman jika melakukan perbuatan yang tidak baik. Meskipun di awal-awal terasa berat, repot, tapi kalau sudah jalan sendiri kita sebagai orangtua akan merasa nyaman.

Lelah-lelah dulu saat mereka kecil, kelak jika mereka dewasa dan mandiri, kita tidak lagi berlelah-lelah untuk persoalan kecil. Termasuk urusan BAK di toilet. Nah, kalau sejak kecil tidak dibiasakan buang air di toilet, jangan heran kalau melihat orang dewasa buang air di pinggir jalan, di tiang listrik, di tembok dan banyak tempat umum lainnya. Memandirikan anak butuh perjuangan dan semangat yang pantang menyerah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Day 9 Game Level 4

Memang benar ya, belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air. Kerasa banget bedanya. Contohnya saja belajar menghafal Quran, banyak banget yang kelewat atau lupa. Fa dan Wa sering ketuker. Haduuuh... Kalau anak-anak cepat sekali belajarnya. Meskipun begitu, saya tak mau menyerah. Menghafal sehari satu ayat dengan metode Kauny. Menghafal Quran semudah tersenyum. Pakai gerakan tangan. Fatih diajari, agak malas dia pakai gerakan tangan. Tapi dia dengerin dan bisa. Belakangan saya ragu, dia ini auditori atau kinestetik? Kholid, 2 tahun. Paling semangat kalau pakai gerakan tangan. Baginya seperti permainan. Jadi minta diulang terus sampai bosan. Lalu aktif dengan permainan lain. Thoriq lebih banyak "gak mau laaaah" kalau diajak ngafalin bareng. Hehe. . Lika liku bermain dan belajar bersama anak.

Kreatifitas Bukan Mukjizat

Menyusuri jalanan kota Bandung pagi ini membuat saya terpana. Wah! Keren! Wow! Dan sederetan ketakjuban lainnya. Kreatif! Sejak dari Gedung Sate,  lapangan Gasibu, sampai tembok-tembok di jalan Asia Afrika hingga lukisan sepanjang jalan Braga,  membuat saya terus menggumamkan kata kreatif itu. Tembok penuh mural,  para seniman yang berkostum kartun dan lukisan yang luar biasa indah di jalan Braga. Menurut saya,  kreatifitas itu tidak tiba-tiba turun dari langit. Sebab kreatifitas bukanlah mukjizat,  melainkan hasil usaha manusia untuk mau berusaha dan berpikir di luar kebiasaan,  di luar keumuman. Sebab,  orang kreatif itu memang sedikit berbeda dengan orang yang hanya berpikir “lurus”. Saat kita melihat anak corat-coret tembok,  apa yang terlintas di pikiran kita? Tembok yang kotor? Atau justru memandangnya sebagai bentuk lain dari mural yang kreatif? Saat melihat kelakuan anak-anak yang mungkin sedikit unik, atau orang menyebutnya nakal,...

Day 6 Game Level #4

Beberapa hari ini Fatih tampak sedih. Rantai sepedanya rusak. Biasanya dia ke masjid naik sepeda kesayangannya itu. Sepertinya dia sudah berusaha membetulkannya sendiri, tapi yang terjadi malah rusak. Dan sepedanya tidak bisa digunakan. Kasihan. Tapi dari situ kelihatan bahwa dia sudah berusaha mencari solusi atas masalahnya sendiri, meskipun tidak bisa. Setidaknya dia sudah berusaha. Dan nanti sepedanya akan diperbaiki di bengkel.  Dia tidak menangis saat sepedanya rusak. Hanya agak frustasi aja tuh. Tapi dia berkata, "Aa udahan dulu main sepedanya. Sepedanya rusak." Kalau begini, disebut tipe kinestetis kah?