Langsung ke konten utama

NHW 10

Sudah setahun saya bergabung dengan grup Institut Ibu Profesional, mengikuti setiap alurnya dan merasakan berbagai macam perubahan berupa pikiran dan perbuatan. Rasanya sungguh luar biasa, seperti ada badai di dalam otak dan hati saya. Menghancurkan pemikiran-pemikiran “buruk” sebelumnya.

Tahun ini, kagetlah saya karena diamanahi sebagai PJ Menulis, juga admin FB. Bingung mau melakukan apa nantinya? Tapi Bismillah insya Allah saya akan melakukannya.

Membuat Fanspage dan mengisinya satu persatu dengan tulisan resume kulwap dan macam-macam tulisan inspiratif terkait parenting dan kerumahranggaan. Dengan semakin banyak liker, diharapkan IIP bisa tersebar semakin luas. Agar semakin banyak ibu yang tercerahkan oleh ilmu-ilmu baru yang “badai” ini.

Kelas menulis online pun dimulai dengan 21 peserta yang semuanya adalah pengurus serta member IIP yang telah mengikuti matrikulasi. Sudah dua bulan berjalan, dengan pembimbingnya Bu Tias Tatanka.

Ke depannya, kelas menulis ini insya Allah akan terus berlanjut. Per 3 bulan. Dan saya ingin semakin banyak yang mengikuti kelas menulis, walaupun passion tidak bisa dipaksakan. Namun, semoga para member bisa terus belajar bersama meningkatkan kualitas dirinya menjadi lebih baik lagi menulis, karena setiap pekan kita sudah ditugaskan mengerjakan NHW. Mudah-mudahan ini bisa membantu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Day 9 Game Level 4

Memang benar ya, belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air. Kerasa banget bedanya. Contohnya saja belajar menghafal Quran, banyak banget yang kelewat atau lupa. Fa dan Wa sering ketuker. Haduuuh... Kalau anak-anak cepat sekali belajarnya. Meskipun begitu, saya tak mau menyerah. Menghafal sehari satu ayat dengan metode Kauny. Menghafal Quran semudah tersenyum. Pakai gerakan tangan. Fatih diajari, agak malas dia pakai gerakan tangan. Tapi dia dengerin dan bisa. Belakangan saya ragu, dia ini auditori atau kinestetik? Kholid, 2 tahun. Paling semangat kalau pakai gerakan tangan. Baginya seperti permainan. Jadi minta diulang terus sampai bosan. Lalu aktif dengan permainan lain. Thoriq lebih banyak "gak mau laaaah" kalau diajak ngafalin bareng. Hehe. . Lika liku bermain dan belajar bersama anak.

Kreatifitas Bukan Mukjizat

Menyusuri jalanan kota Bandung pagi ini membuat saya terpana. Wah! Keren! Wow! Dan sederetan ketakjuban lainnya. Kreatif! Sejak dari Gedung Sate,  lapangan Gasibu, sampai tembok-tembok di jalan Asia Afrika hingga lukisan sepanjang jalan Braga,  membuat saya terus menggumamkan kata kreatif itu. Tembok penuh mural,  para seniman yang berkostum kartun dan lukisan yang luar biasa indah di jalan Braga. Menurut saya,  kreatifitas itu tidak tiba-tiba turun dari langit. Sebab kreatifitas bukanlah mukjizat,  melainkan hasil usaha manusia untuk mau berusaha dan berpikir di luar kebiasaan,  di luar keumuman. Sebab,  orang kreatif itu memang sedikit berbeda dengan orang yang hanya berpikir “lurus”. Saat kita melihat anak corat-coret tembok,  apa yang terlintas di pikiran kita? Tembok yang kotor? Atau justru memandangnya sebagai bentuk lain dari mural yang kreatif? Saat melihat kelakuan anak-anak yang mungkin sedikit unik, atau orang menyebutnya nakal,...

Day 6 Game Level #4

Beberapa hari ini Fatih tampak sedih. Rantai sepedanya rusak. Biasanya dia ke masjid naik sepeda kesayangannya itu. Sepertinya dia sudah berusaha membetulkannya sendiri, tapi yang terjadi malah rusak. Dan sepedanya tidak bisa digunakan. Kasihan. Tapi dari situ kelihatan bahwa dia sudah berusaha mencari solusi atas masalahnya sendiri, meskipun tidak bisa. Setidaknya dia sudah berusaha. Dan nanti sepedanya akan diperbaiki di bengkel.  Dia tidak menangis saat sepedanya rusak. Hanya agak frustasi aja tuh. Tapi dia berkata, "Aa udahan dulu main sepedanya. Sepedanya rusak." Kalau begini, disebut tipe kinestetis kah?