Langsung ke konten utama

Day 1 Game Level 3

Family Project. Kedengarannya berat, meskipun sebenarnya sudah sering melakukan banyak hal seru bersama. Tapi baiklah, akan saya coba mendokumentasikannya. Siang ini, anak-anak pada asyik main game sendiri.

Mulailah saya ajak suami untuk membuat sebuah gambar, lalu anak-anak yang mewarnainya. Karena anak ada tiga dan laki-laki semua, udah pasti membuat gambarnya juga harus tiga. Biar adil. Tugas saya adalah mengondisikan agar suasana berjalan lancar penuh kedamaian.

Menit-menit pertama lancar, semua sibuk dengan gambarnya masing-masing. Lalu mulailah Kholid si 2 tahun usil. Nyoret gambar kakaknya. Nah di sinilah tampak Emotional Quotient Fatih si sulung 7 tahun belum begitu bagus. Dia marah ketika gambarnya “dipercantik” oleh adiknya. Menurutnya, dia sudah berusaha keras sampai capek demi bisa mewarnai gambarnya tapi adiknya usil. Jadi deh melerai dan mendamaikan mereka dulu. Berkali-kali begitu, yasudah jadinya malah kisruh. Kholid minta maaf ke Aa, tapi Fatih belum sudi memaafkannya.

Thoriq si anak tengah, santai saja mewarnai. Sering tanya warna hijau mana, oren mana, kuning mana dll. Sekarang cara dia mewarnai sudah lebih baik dibandingkan setahun lalu. Kemudian, dia sudahi pekerjaannya.
“Lho, dindingnya belum diwarnain...” kataku.
Santai dia jawab, “Dindingnya warna putih.”
Oh, oke....

Sementara Kholid, ngakunya dia menggambar mbek (kambing). Oke deh...
Kalian semua insyaAllah anak-anak hebat ya Nak...
Besok kita pikirkan lagi family projectnya...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Day 9 Game Level 4

Memang benar ya, belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air. Kerasa banget bedanya. Contohnya saja belajar menghafal Quran, banyak banget yang kelewat atau lupa. Fa dan Wa sering ketuker. Haduuuh... Kalau anak-anak cepat sekali belajarnya. Meskipun begitu, saya tak mau menyerah. Menghafal sehari satu ayat dengan metode Kauny. Menghafal Quran semudah tersenyum. Pakai gerakan tangan. Fatih diajari, agak malas dia pakai gerakan tangan. Tapi dia dengerin dan bisa. Belakangan saya ragu, dia ini auditori atau kinestetik? Kholid, 2 tahun. Paling semangat kalau pakai gerakan tangan. Baginya seperti permainan. Jadi minta diulang terus sampai bosan. Lalu aktif dengan permainan lain. Thoriq lebih banyak "gak mau laaaah" kalau diajak ngafalin bareng. Hehe. . Lika liku bermain dan belajar bersama anak.

Kreatifitas Bukan Mukjizat

Menyusuri jalanan kota Bandung pagi ini membuat saya terpana. Wah! Keren! Wow! Dan sederetan ketakjuban lainnya. Kreatif! Sejak dari Gedung Sate,  lapangan Gasibu, sampai tembok-tembok di jalan Asia Afrika hingga lukisan sepanjang jalan Braga,  membuat saya terus menggumamkan kata kreatif itu. Tembok penuh mural,  para seniman yang berkostum kartun dan lukisan yang luar biasa indah di jalan Braga. Menurut saya,  kreatifitas itu tidak tiba-tiba turun dari langit. Sebab kreatifitas bukanlah mukjizat,  melainkan hasil usaha manusia untuk mau berusaha dan berpikir di luar kebiasaan,  di luar keumuman. Sebab,  orang kreatif itu memang sedikit berbeda dengan orang yang hanya berpikir “lurus”. Saat kita melihat anak corat-coret tembok,  apa yang terlintas di pikiran kita? Tembok yang kotor? Atau justru memandangnya sebagai bentuk lain dari mural yang kreatif? Saat melihat kelakuan anak-anak yang mungkin sedikit unik, atau orang menyebutnya nakal,...

Day 6 Game Level #4

Beberapa hari ini Fatih tampak sedih. Rantai sepedanya rusak. Biasanya dia ke masjid naik sepeda kesayangannya itu. Sepertinya dia sudah berusaha membetulkannya sendiri, tapi yang terjadi malah rusak. Dan sepedanya tidak bisa digunakan. Kasihan. Tapi dari situ kelihatan bahwa dia sudah berusaha mencari solusi atas masalahnya sendiri, meskipun tidak bisa. Setidaknya dia sudah berusaha. Dan nanti sepedanya akan diperbaiki di bengkel.  Dia tidak menangis saat sepedanya rusak. Hanya agak frustasi aja tuh. Tapi dia berkata, "Aa udahan dulu main sepedanya. Sepedanya rusak." Kalau begini, disebut tipe kinestetis kah?