Family Project. Kedengarannya berat, meskipun sebenarnya sudah sering melakukan banyak hal seru bersama. Tapi baiklah, akan saya coba mendokumentasikannya. Siang ini, anak-anak pada asyik main game sendiri.
Mulailah saya ajak suami untuk membuat sebuah gambar, lalu anak-anak yang mewarnainya. Karena anak ada tiga dan laki-laki semua, udah pasti membuat gambarnya juga harus tiga. Biar adil. Tugas saya adalah mengondisikan agar suasana berjalan lancar penuh kedamaian.
Menit-menit pertama lancar, semua sibuk dengan gambarnya masing-masing. Lalu mulailah Kholid si 2 tahun usil. Nyoret gambar kakaknya. Nah di sinilah tampak Emotional Quotient Fatih si sulung 7 tahun belum begitu bagus. Dia marah ketika gambarnya “dipercantik” oleh adiknya. Menurutnya, dia sudah berusaha keras sampai capek demi bisa mewarnai gambarnya tapi adiknya usil. Jadi deh melerai dan mendamaikan mereka dulu. Berkali-kali begitu, yasudah jadinya malah kisruh. Kholid minta maaf ke Aa, tapi Fatih belum sudi memaafkannya.
Thoriq si anak tengah, santai saja mewarnai. Sering tanya warna hijau mana, oren mana, kuning mana dll. Sekarang cara dia mewarnai sudah lebih baik dibandingkan setahun lalu. Kemudian, dia sudahi pekerjaannya.
“Lho, dindingnya belum diwarnain...” kataku.
Santai dia jawab, “Dindingnya warna putih.”
Oh, oke....
Sementara Kholid, ngakunya dia menggambar mbek (kambing). Oke deh...
Kalian semua insyaAllah anak-anak hebat ya Nak...
Besok kita pikirkan lagi family projectnya...
Mulailah saya ajak suami untuk membuat sebuah gambar, lalu anak-anak yang mewarnainya. Karena anak ada tiga dan laki-laki semua, udah pasti membuat gambarnya juga harus tiga. Biar adil. Tugas saya adalah mengondisikan agar suasana berjalan lancar penuh kedamaian.
Menit-menit pertama lancar, semua sibuk dengan gambarnya masing-masing. Lalu mulailah Kholid si 2 tahun usil. Nyoret gambar kakaknya. Nah di sinilah tampak Emotional Quotient Fatih si sulung 7 tahun belum begitu bagus. Dia marah ketika gambarnya “dipercantik” oleh adiknya. Menurutnya, dia sudah berusaha keras sampai capek demi bisa mewarnai gambarnya tapi adiknya usil. Jadi deh melerai dan mendamaikan mereka dulu. Berkali-kali begitu, yasudah jadinya malah kisruh. Kholid minta maaf ke Aa, tapi Fatih belum sudi memaafkannya.
Thoriq si anak tengah, santai saja mewarnai. Sering tanya warna hijau mana, oren mana, kuning mana dll. Sekarang cara dia mewarnai sudah lebih baik dibandingkan setahun lalu. Kemudian, dia sudahi pekerjaannya.
“Lho, dindingnya belum diwarnain...” kataku.
Santai dia jawab, “Dindingnya warna putih.”
Oh, oke....
Sementara Kholid, ngakunya dia menggambar mbek (kambing). Oke deh...
Kalian semua insyaAllah anak-anak hebat ya Nak...
Besok kita pikirkan lagi family projectnya...

Komentar
Posting Komentar