Kemandirian adalah pembiasaan yang dilandasi kesadaran. Bisa berdiri di atas kaki sendiri tanpa dipapah atau dituntun orang lain merupakan sesuatu yang tidak muncul dengan sendirinya. Harus ada usaha, kemauan dan terus berusaha.
Andaikata hari ini kita melihat seorang remaja mengamuk karena tidak dibelikan sesuatu seperti motor dan HP baru oleh oerangtuanya, maka jangan dulu salahkan anaknya. Lihat sudah sejauh mana orangtuanya memandirikan anak tersebut. Sebab, perilaku meminta sesuatu kepada orang lain adalah salah satu sikap manja, tidak mandiri. Selalu ingin dituruti keinginannya tanpa peduli bagaimana caranya. Sungguhpun kondisi orang yang diminta itu kesulitan.
Bagaikan menanam pohon, tak mungkin pohon itu langsung berbuah lebat saat pertama kali kita menanamnya. Banyak proses yang harus dilalui, mulai dari menanamnya, menyiraminya, memberinya pupuk, sampai menyianginya dari hama. Butuh perjalanan panjang yang tak jarang melelahkan. Begitu juga dalam mendidik anak. Tidak seinstan masak mie ya Bunda.
Oleh karena itulah, pembelajaran kemandirian ini sepanjang hidup. Tidak cukup waktu seminggu lalu langsung mandiri. Kita harus sabar membersamainya, walaupun kadang mengalami hambatan, dan hal-hal lain di luar rencana. Itu biasa dalam belajar. Yang paling penting adalah kesabaran. Saat ini pepatah “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian” adalah sangat tepat untuk kita pegang. Lebih baik saat mereka masih kecil kita mulai membiasakan mereka mandiri, agar ketika mereka dewasa sudah mampu berpijak pada kakinya sendiri. Tidak menyusahkan orang lain, termasuk orangtuanya.
Bisa jadi saat ini kita berkecukupan, sehingga kebutuhan dan keinginan anak-anak bisa dengan mudah kita berikan. Namun, roda hidup terus berputar, kita tidak tahu kondisi kita di masa depan akan seperti apa. Alangkah baiknya bila kita mempersiapkan seluruh anggota keluarga agar mandiri, supaya siap atas segala hal yang tak terduga nantinya.
Andaikata hari ini kita melihat seorang remaja mengamuk karena tidak dibelikan sesuatu seperti motor dan HP baru oleh oerangtuanya, maka jangan dulu salahkan anaknya. Lihat sudah sejauh mana orangtuanya memandirikan anak tersebut. Sebab, perilaku meminta sesuatu kepada orang lain adalah salah satu sikap manja, tidak mandiri. Selalu ingin dituruti keinginannya tanpa peduli bagaimana caranya. Sungguhpun kondisi orang yang diminta itu kesulitan.
Bagaikan menanam pohon, tak mungkin pohon itu langsung berbuah lebat saat pertama kali kita menanamnya. Banyak proses yang harus dilalui, mulai dari menanamnya, menyiraminya, memberinya pupuk, sampai menyianginya dari hama. Butuh perjalanan panjang yang tak jarang melelahkan. Begitu juga dalam mendidik anak. Tidak seinstan masak mie ya Bunda.
Oleh karena itulah, pembelajaran kemandirian ini sepanjang hidup. Tidak cukup waktu seminggu lalu langsung mandiri. Kita harus sabar membersamainya, walaupun kadang mengalami hambatan, dan hal-hal lain di luar rencana. Itu biasa dalam belajar. Yang paling penting adalah kesabaran. Saat ini pepatah “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian” adalah sangat tepat untuk kita pegang. Lebih baik saat mereka masih kecil kita mulai membiasakan mereka mandiri, agar ketika mereka dewasa sudah mampu berpijak pada kakinya sendiri. Tidak menyusahkan orang lain, termasuk orangtuanya.
Bisa jadi saat ini kita berkecukupan, sehingga kebutuhan dan keinginan anak-anak bisa dengan mudah kita berikan. Namun, roda hidup terus berputar, kita tidak tahu kondisi kita di masa depan akan seperti apa. Alangkah baiknya bila kita mempersiapkan seluruh anggota keluarga agar mandiri, supaya siap atas segala hal yang tak terduga nantinya.
Komentar
Posting Komentar