Langsung ke konten utama

Aliran Rasa #2

Kemandirian adalah pembiasaan yang dilandasi kesadaran. Bisa berdiri di atas kaki sendiri tanpa dipapah atau dituntun orang lain merupakan sesuatu yang tidak muncul dengan sendirinya. Harus ada usaha, kemauan dan terus berusaha.

Andaikata hari ini kita melihat seorang remaja mengamuk karena tidak dibelikan sesuatu seperti motor dan HP baru  oleh oerangtuanya, maka jangan dulu salahkan anaknya. Lihat sudah sejauh mana orangtuanya memandirikan anak tersebut. Sebab, perilaku meminta sesuatu kepada orang lain adalah salah satu sikap manja, tidak mandiri. Selalu ingin dituruti keinginannya tanpa peduli bagaimana caranya. Sungguhpun kondisi orang yang diminta itu kesulitan.

Bagaikan menanam pohon, tak mungkin pohon itu langsung berbuah lebat saat pertama kali kita menanamnya. Banyak proses yang harus dilalui, mulai dari menanamnya, menyiraminya, memberinya pupuk, sampai menyianginya dari hama. Butuh perjalanan panjang yang tak jarang melelahkan. Begitu juga dalam mendidik anak. Tidak seinstan masak mie ya Bunda.

Oleh karena itulah, pembelajaran kemandirian ini sepanjang hidup. Tidak cukup waktu seminggu lalu langsung mandiri. Kita harus sabar membersamainya, walaupun kadang mengalami hambatan, dan hal-hal lain di luar rencana. Itu biasa dalam belajar. Yang paling penting adalah kesabaran. Saat ini pepatah “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian” adalah sangat tepat untuk kita pegang. Lebih baik saat mereka masih kecil kita mulai membiasakan mereka mandiri, agar ketika mereka dewasa sudah mampu berpijak pada kakinya sendiri. Tidak menyusahkan orang lain, termasuk orangtuanya.

Bisa jadi saat ini kita berkecukupan, sehingga kebutuhan dan keinginan anak-anak bisa dengan mudah kita berikan. Namun, roda hidup terus berputar, kita tidak tahu kondisi kita di masa depan akan seperti apa. Alangkah baiknya bila kita mempersiapkan seluruh anggota keluarga agar mandiri, supaya siap atas segala hal yang tak terduga nantinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Day 9 Game Level 4

Memang benar ya, belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air. Kerasa banget bedanya. Contohnya saja belajar menghafal Quran, banyak banget yang kelewat atau lupa. Fa dan Wa sering ketuker. Haduuuh... Kalau anak-anak cepat sekali belajarnya. Meskipun begitu, saya tak mau menyerah. Menghafal sehari satu ayat dengan metode Kauny. Menghafal Quran semudah tersenyum. Pakai gerakan tangan. Fatih diajari, agak malas dia pakai gerakan tangan. Tapi dia dengerin dan bisa. Belakangan saya ragu, dia ini auditori atau kinestetik? Kholid, 2 tahun. Paling semangat kalau pakai gerakan tangan. Baginya seperti permainan. Jadi minta diulang terus sampai bosan. Lalu aktif dengan permainan lain. Thoriq lebih banyak "gak mau laaaah" kalau diajak ngafalin bareng. Hehe. . Lika liku bermain dan belajar bersama anak.

Kreatifitas Bukan Mukjizat

Menyusuri jalanan kota Bandung pagi ini membuat saya terpana. Wah! Keren! Wow! Dan sederetan ketakjuban lainnya. Kreatif! Sejak dari Gedung Sate,  lapangan Gasibu, sampai tembok-tembok di jalan Asia Afrika hingga lukisan sepanjang jalan Braga,  membuat saya terus menggumamkan kata kreatif itu. Tembok penuh mural,  para seniman yang berkostum kartun dan lukisan yang luar biasa indah di jalan Braga. Menurut saya,  kreatifitas itu tidak tiba-tiba turun dari langit. Sebab kreatifitas bukanlah mukjizat,  melainkan hasil usaha manusia untuk mau berusaha dan berpikir di luar kebiasaan,  di luar keumuman. Sebab,  orang kreatif itu memang sedikit berbeda dengan orang yang hanya berpikir “lurus”. Saat kita melihat anak corat-coret tembok,  apa yang terlintas di pikiran kita? Tembok yang kotor? Atau justru memandangnya sebagai bentuk lain dari mural yang kreatif? Saat melihat kelakuan anak-anak yang mungkin sedikit unik, atau orang menyebutnya nakal,...

Day 6 Game Level #4

Beberapa hari ini Fatih tampak sedih. Rantai sepedanya rusak. Biasanya dia ke masjid naik sepeda kesayangannya itu. Sepertinya dia sudah berusaha membetulkannya sendiri, tapi yang terjadi malah rusak. Dan sepedanya tidak bisa digunakan. Kasihan. Tapi dari situ kelihatan bahwa dia sudah berusaha mencari solusi atas masalahnya sendiri, meskipun tidak bisa. Setidaknya dia sudah berusaha. Dan nanti sepedanya akan diperbaiki di bengkel.  Dia tidak menangis saat sepedanya rusak. Hanya agak frustasi aja tuh. Tapi dia berkata, "Aa udahan dulu main sepedanya. Sepedanya rusak." Kalau begini, disebut tipe kinestetis kah?