Langsung ke konten utama

Day 7 Mandiri Tanpa Ummu

Sudah dua hari saya meninggalkan rumah untuk belajar di luar kota mengikuti workshop. Rasanya kangen pada anak-anak. Saat sudah luang dan menelepon rumah adalah saat yang menyenangkan. Bisa mendengar cerita tentang anak-anak itu sudah lega.

Malam ini, diceritakanlah bagaimana mandirinya anak-anak tanpa kehadiran saya. Padahal kalau ada saya, sudah pasti pada manja. Malah saya jadi berpikir jangan-jangan sebaiknya mereka sering ditinggal agar bisa mandiri? Hehe...

Mulai dari Aa, dia yang rajin ke masjid untuk salat berjamaah lima waktu lanjut mengaji. Sekolah tidak diantar dan tidak dijemput (macem Jalangkung aja nih). Aduhhh rasanya bangga deh sama Aa karena mau melakukannya sendiri. 

Kakak juga mandiri, mau sekolah meskipun saya tidak menemaninya. Memang sih, seharian ini dia nelpon terus meski dia nggak ngomong. Kangen banget kayaknya. Kakak juga bikin bangga ih, karena rajin sekolah TPAnya...

Dan Dedek, yang belum lepas ASI. Memang yang paling memberatkan. Namun mau bagaimana lagi... hiks... Tapi mendengar ceritanya, dia mau minum susu sendiri, main dan makan juga lancar.. alhamdulillah. Setidaknya saya nggak perlu terlalu khawatir. Justru kalau saya tidak tenang, malah ikatan batin dengan Dedek akan membuatnya jadi rewel.

Dan suami, juga otomatis jadi mandiri. Menjaga anak-anak, bergadang semalaman mungkin karena Dedek sewaktu-waktu menangis. Duh ya, ternyata kalau saya tidak ada, mereka pada pinter yah. Kenapa kalau ada saya, pada manja-manja semuanya? 
Semangat terus memandirikan anak-anak, diri sendiri dan suami. Karena keluarga adalah tim yang solid. Semangat!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Day 9 Game Level 4

Memang benar ya, belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air. Kerasa banget bedanya. Contohnya saja belajar menghafal Quran, banyak banget yang kelewat atau lupa. Fa dan Wa sering ketuker. Haduuuh... Kalau anak-anak cepat sekali belajarnya. Meskipun begitu, saya tak mau menyerah. Menghafal sehari satu ayat dengan metode Kauny. Menghafal Quran semudah tersenyum. Pakai gerakan tangan. Fatih diajari, agak malas dia pakai gerakan tangan. Tapi dia dengerin dan bisa. Belakangan saya ragu, dia ini auditori atau kinestetik? Kholid, 2 tahun. Paling semangat kalau pakai gerakan tangan. Baginya seperti permainan. Jadi minta diulang terus sampai bosan. Lalu aktif dengan permainan lain. Thoriq lebih banyak "gak mau laaaah" kalau diajak ngafalin bareng. Hehe. . Lika liku bermain dan belajar bersama anak.

Kreatifitas Bukan Mukjizat

Menyusuri jalanan kota Bandung pagi ini membuat saya terpana. Wah! Keren! Wow! Dan sederetan ketakjuban lainnya. Kreatif! Sejak dari Gedung Sate,  lapangan Gasibu, sampai tembok-tembok di jalan Asia Afrika hingga lukisan sepanjang jalan Braga,  membuat saya terus menggumamkan kata kreatif itu. Tembok penuh mural,  para seniman yang berkostum kartun dan lukisan yang luar biasa indah di jalan Braga. Menurut saya,  kreatifitas itu tidak tiba-tiba turun dari langit. Sebab kreatifitas bukanlah mukjizat,  melainkan hasil usaha manusia untuk mau berusaha dan berpikir di luar kebiasaan,  di luar keumuman. Sebab,  orang kreatif itu memang sedikit berbeda dengan orang yang hanya berpikir “lurus”. Saat kita melihat anak corat-coret tembok,  apa yang terlintas di pikiran kita? Tembok yang kotor? Atau justru memandangnya sebagai bentuk lain dari mural yang kreatif? Saat melihat kelakuan anak-anak yang mungkin sedikit unik, atau orang menyebutnya nakal,...

Day 6 Game Level #4

Beberapa hari ini Fatih tampak sedih. Rantai sepedanya rusak. Biasanya dia ke masjid naik sepeda kesayangannya itu. Sepertinya dia sudah berusaha membetulkannya sendiri, tapi yang terjadi malah rusak. Dan sepedanya tidak bisa digunakan. Kasihan. Tapi dari situ kelihatan bahwa dia sudah berusaha mencari solusi atas masalahnya sendiri, meskipun tidak bisa. Setidaknya dia sudah berusaha. Dan nanti sepedanya akan diperbaiki di bengkel.  Dia tidak menangis saat sepedanya rusak. Hanya agak frustasi aja tuh. Tapi dia berkata, "Aa udahan dulu main sepedanya. Sepedanya rusak." Kalau begini, disebut tipe kinestetis kah?