Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2017

Day 6 Melatih Kemandirian

Agak berat sebenarnya saya tinggalkan keluarga di rumah untuk memgikuti acara Bimtek selama empat hari ke depan. Selama ini anak-anak sangat dekat dengan saya, jadi begitu ditinggalkan, kasihan sekali... Namun, ketika ada kesempatan maka tidak boleh disia-siakan. Lanjut saja ikutan. Suami pun mengatakan, “Umu di situ tenang aja. Anak-anak Abah yang handle” Wah... Meleleh deh rasanya. Begitu pengertiannya demi istri yang sedang menambah ilmu kepenulisan ini. Entah bagaimana caranya di rumah mengatasi kehebohan tiga bocah yang sering ribut itu. Saya harus fokus di sini, sehingga optimal dan ilmunya bermanfaat. Sekali-sekali biarkan suami mandiri tanpa kehadiran istri. Dan anggap saja ini “me time” yang seru.

Day 5 Melatih Kemandirian

Aku tidak tahu mengapa, sejak menikah aku menjadi sangat manja. Apa-apa minta dibantu suami, kemana-mana minta dianter suami. Padahal dulu waktu masih single, aku merasa strong. Mau kemana aja, ngapain aja, bisa sendiri. Setelah menikah kok kayak ketergantungan gini sama suami. Akibatnya jadi tidak baik. Aku jadi tidak bisa apa-apa kalau suami tak ada. Rasanya ada yang kurang lengkap. Ibarat sayap, patah sebelah. Terbangnya jadi miring.  Padahal suami juga sibuk. Tapi saya repotin terus terutama mau pergi ke suatu tempat. Suami sih oke oke aja selagi bisa. Namun kadang aku ngambek kalau suami tidak mau mengantarkan, atau lupa pada janjinya. Sore ini aku ada janji dengan teman di alun-alun, mau meminjam sesuatu. Bismillah, aku mau naik angkot aja. Suami menawarkan untuk mengantar, tapi aku harus berani tidak merepotkannya. Lagipula anak-anak sekolah TPA siapa yang jemput nantinya? Aku pun berangkat sendirian, bawa payung karena langit sangat mendung. Dan pergi sendirian rasany...

Aa Bisa Nyetrika

Pekerjaan yang paling malas saya lakukan itu menyetrika. Rasanya membosankan duduk terus dengan aktivitas yang terlalu monoton. Apalagi kalau pakaian yang harus disetrika ada banyak. Pegal deh. Lalu, mengapa tidak saya berdayakan saja Aa? Dia kan sudah 7 tahun. Sudah waktunya mandiri. Dan dia sendiri yang meminta untuk dibolehkan menyetrika. Okelah. Pakaian besar dan kecil saya pisahkan. Yang besar itu jatah saya, pakaian kecil yakni pakaian Aa sendiri disetrikanya sendiri. Dia duduk dengan gayanya sendiri. Saya tinggalkan untuk mengerjakan hal yang lain. Sambil sesekali saya awasi dan memberinya instruksi cara menyetrika dan melipat pakaiannya. Ternyata menyenangkan sekali ya. Aktivitas ini bisa membuat anak senang, dan bundanya juga terbantu. Saya membayangkan, andai anak tidak dilatih untuk mengerjakan pekerjaan rumah, niscaya dia akan manja. Yang untuk keperluannya saja harus dilayani. Selain itu kita akan capek sampai tua kalau tidak memandirikan anak. Semangat terus ya Aa. B...

Tentang Aa dan Kakak

Sebagai sulung, Aa sayang kepada dua orang adiknya. Kadang sih sedikit usil, yang membuat Kakak dan Dedek menangis. Beginilah serunya punya anak tiga, kalau mereka main akur ya syukur. Kalau pas lagi ribut saya tambah mumet. Seperti siang ini, Aa dan Kakak pergi salat Zuhur bersama. Selang berapa jam belum pulang juga. Kayaknya di rumah Rehan deh, karena biasanya sepulang salat suka main kesana. Namun sampai Asar tak juga mereka pulang. Jadi bingung.  Dicari di rumah Rehan ternyata tidak ada. Di rumah temannya yang lain juga tak ada. Kemana ini? Tak disangka ternyata mainnya ke rumah teman TPA Kakak. Berani amat padahal rumahnya cukup jauh. Aa itu pelopor, Kakak pengikut. Aa itu mencontohkan, Kakak meniru. Jika Aa kalem, pasti Kakak yang dasarnya anteng itu gak mau gerak sama sekali. Kadang saya merasa, Aa ini lebih cepat dewasa. Mandiri main sendiri, kadang mengajak adiknya main. Itu sangat membantu saya dalam mengerjakan tugas domestik maupun mengurusi Dedek. Hanya, memand...

Ngompol

Rasanya beginilah kalau anak ngompol, jejaknya bisa terlihat dari banyaknya cucian. Untung pakai perlak, jadi bisa sedikit memudahkan. Sebenernya kalau mau sedikit repot, tengah malam bangunin supaya anak mau pipis. Tapi saya kesusahan kalau bangun tengah malam. Udah capek banget... Tapi pengalaman dari dua kakaknya, ngompol bisa terjadi kalau sebelum tidur nggak pipis dulu. Bisa juga karena minum terlalu banyak. Minum susu malam juga bisa bikin ngompol. Bahayanya kalau sudah besar ngompol itu (walau kadang sih) kasurnya basah semua. Baunya pesing banget. Mending aja kalau panas terik, kalau mendung mau jemur pakai apa? Semangat terus toilet trainingnya Dek! #Level2 #KuliahBunSayIIP #MelatihKemandirian

Toilet Training Itu Mudah

Khalid (1y9m) sedang belajar Toilet Training. Sebelumnya pakai diapers aja yang membuat saya sering hunting diapers murah online. Tapi rempong juga kalau setiap bulan ngeluarin budget beli diapers. Yah walaupun pakenya Cuma malam sih, dengan alasan supaya gak repot gantiin popok bekas ompolnya karena capek seharian ngurus kerjaan rumah. Jadi nekad deh, gak pake diapers. Khawatir juga sih, gimana kalau nanti ngompol membasahi seluruh kasur. Dan ternyata iya. Hehe. Jadi deh beberapa hari nyuci seprai terus. Ini udah ada lima hari dia tidur malamnya gak ngompol sama sekali. Apa karena sebelum tidur sudah ditatur ya? Bangun tidur juga langsung ditatur. Siang hari dia sudah bisa bilang “pis” dan “ee” maka itu pertanda harus segera dibawa ke kamar mandi. Khalid masih perlu belajar supaya bisa menempatkan antara keinginan mau pipisnya, atau Cuma ingin main air. Atau karena latah lihat Aa dan Kakak mandi jadi ikutan pingin mandi juga. #Level2 #KuliahBunSayIIP #MelatihKemandirian

Aliran Rasa "Komunikasi Produktif"

Saya ingat dulu saat awal menikah, komunikasi dengan suami buruk sekali. Banyak silangnya. Apa yang ingin diungkapkan, berbeda dengan yang ditampakkan. Lebih banyak ngambeknya malah. Dan “permainan otak” ala perempuan pun sering terjadi. Dikit-dikit ngambek, mogok bicara, parahnya lagi kalau cemburu, sampe banting pintu juga suami nggak paham. Capek juga kayak gini terus. Laki-laki dan perempuan itu beda. Kita mau ngambek 1000 tahun juga gak bakalan kelar masalah. Jadi daripada minta dimengerti terus, saya aja deh yang “vulgar”.  Jebred jebred aja saya ungkapkan. “Saya cemburu sama dia karena Abang cerita tentang dia.” “Saya kesal karena Abang pulang terlambat.” “Saya marah karena saya lapar. Jadi saya mau makan dulu “ Sejauh ini sih alhamdulillah udah jarang ngambek. Kalau lagi kesel banget emang iya masih pake silent treatment tapi gak lama setelah itu jujur masalahnya apa. Kami pun jadi jarang bertengkar.. Karena terjadi komunikasi yang “nyambung” secara logika. Ud...