Langsung ke konten utama

Tentang Aa dan Kakak

Sebagai sulung, Aa sayang kepada dua orang adiknya. Kadang sih sedikit usil, yang membuat Kakak dan Dedek menangis. Beginilah serunya punya anak tiga, kalau mereka main akur ya syukur. Kalau pas lagi ribut saya tambah mumet.

Seperti siang ini, Aa dan Kakak pergi salat Zuhur bersama. Selang berapa jam belum pulang juga. Kayaknya di rumah Rehan deh, karena biasanya sepulang salat suka main kesana. Namun sampai Asar tak juga mereka pulang. Jadi bingung. 

Dicari di rumah Rehan ternyata tidak ada. Di rumah temannya yang lain juga tak ada. Kemana ini? Tak disangka ternyata mainnya ke rumah teman TPA Kakak. Berani amat padahal rumahnya cukup jauh.

Aa itu pelopor, Kakak pengikut. Aa itu mencontohkan, Kakak meniru. Jika Aa kalem, pasti Kakak yang dasarnya anteng itu gak mau gerak sama sekali. Kadang saya merasa, Aa ini lebih cepat dewasa. Mandiri main sendiri, kadang mengajak adiknya main. Itu sangat membantu saya dalam mengerjakan tugas domestik maupun mengurusi Dedek.
Hanya, memandirikan Kakak inilah yang tak mudah. Bener-bener mager. Males gerak. Makan minum minta diambilkan, jajan pasti Aa yang belikan. Kalau main pun dia pemalu, makanya harus menunggu Aa “membuka jalan” dulu. Kalau di rumah pun mintanya saya temani terus. 

Saya ingin membuat dia mandiri untuk mau mengambil minum sendiri tanpa teriak dari kamar minta diambilkan. Saya bilang, ambil sendiri di dapur. Duh, dia malah lebih memilih nggak minum daripada ngambil sendiri. Huft. Semoga ke depannya ada perubahan.

#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Day 9 Game Level 4

Memang benar ya, belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air. Kerasa banget bedanya. Contohnya saja belajar menghafal Quran, banyak banget yang kelewat atau lupa. Fa dan Wa sering ketuker. Haduuuh... Kalau anak-anak cepat sekali belajarnya. Meskipun begitu, saya tak mau menyerah. Menghafal sehari satu ayat dengan metode Kauny. Menghafal Quran semudah tersenyum. Pakai gerakan tangan. Fatih diajari, agak malas dia pakai gerakan tangan. Tapi dia dengerin dan bisa. Belakangan saya ragu, dia ini auditori atau kinestetik? Kholid, 2 tahun. Paling semangat kalau pakai gerakan tangan. Baginya seperti permainan. Jadi minta diulang terus sampai bosan. Lalu aktif dengan permainan lain. Thoriq lebih banyak "gak mau laaaah" kalau diajak ngafalin bareng. Hehe. . Lika liku bermain dan belajar bersama anak.

Kreatifitas Bukan Mukjizat

Menyusuri jalanan kota Bandung pagi ini membuat saya terpana. Wah! Keren! Wow! Dan sederetan ketakjuban lainnya. Kreatif! Sejak dari Gedung Sate,  lapangan Gasibu, sampai tembok-tembok di jalan Asia Afrika hingga lukisan sepanjang jalan Braga,  membuat saya terus menggumamkan kata kreatif itu. Tembok penuh mural,  para seniman yang berkostum kartun dan lukisan yang luar biasa indah di jalan Braga. Menurut saya,  kreatifitas itu tidak tiba-tiba turun dari langit. Sebab kreatifitas bukanlah mukjizat,  melainkan hasil usaha manusia untuk mau berusaha dan berpikir di luar kebiasaan,  di luar keumuman. Sebab,  orang kreatif itu memang sedikit berbeda dengan orang yang hanya berpikir “lurus”. Saat kita melihat anak corat-coret tembok,  apa yang terlintas di pikiran kita? Tembok yang kotor? Atau justru memandangnya sebagai bentuk lain dari mural yang kreatif? Saat melihat kelakuan anak-anak yang mungkin sedikit unik, atau orang menyebutnya nakal,...

Day 6 Game Level #4

Beberapa hari ini Fatih tampak sedih. Rantai sepedanya rusak. Biasanya dia ke masjid naik sepeda kesayangannya itu. Sepertinya dia sudah berusaha membetulkannya sendiri, tapi yang terjadi malah rusak. Dan sepedanya tidak bisa digunakan. Kasihan. Tapi dari situ kelihatan bahwa dia sudah berusaha mencari solusi atas masalahnya sendiri, meskipun tidak bisa. Setidaknya dia sudah berusaha. Dan nanti sepedanya akan diperbaiki di bengkel.  Dia tidak menangis saat sepedanya rusak. Hanya agak frustasi aja tuh. Tapi dia berkata, "Aa udahan dulu main sepedanya. Sepedanya rusak." Kalau begini, disebut tipe kinestetis kah?