Saya ingat dulu saat awal menikah, komunikasi dengan suami buruk sekali. Banyak silangnya. Apa yang ingin diungkapkan, berbeda dengan yang ditampakkan. Lebih banyak ngambeknya malah. Dan “permainan otak” ala perempuan pun sering terjadi.
Dikit-dikit ngambek, mogok bicara, parahnya lagi kalau cemburu, sampe banting pintu juga suami nggak paham.
Capek juga kayak gini terus. Laki-laki dan perempuan itu beda. Kita mau ngambek 1000 tahun juga gak bakalan kelar masalah. Jadi daripada minta dimengerti terus, saya aja deh yang “vulgar”.
Jebred jebred aja saya ungkapkan.
“Saya cemburu sama dia karena Abang cerita tentang dia.”
“Saya kesal karena Abang pulang terlambat.”
“Saya marah karena saya lapar. Jadi saya mau makan dulu “
Sejauh ini sih alhamdulillah udah jarang ngambek. Kalau lagi kesel banget emang iya masih pake silent treatment tapi gak lama setelah itu jujur masalahnya apa. Kami pun jadi jarang bertengkar.. Karena terjadi komunikasi yang “nyambung” secara logika. Udah jarang tuh pake kata sakti perempuan macam
“Terserah” dan “nggak apa-apa”.
Namun, masih aja berasa kurang produktif. Udah blak-blakan bicara pun kadang responnya masih alaihum gambreng. Jauh dari yang diharapkan. Kadang Cuma diem, entah dengerin apa nggak. Kadang malah ketiduran. Apa suara saya kayak sandiwara radio Lasmini dan Kamandaka?
Juga apa yang saya sampaikan tidak sepenuhnya dipahaminya sampai harus berulangkali menyatakan hal yang sama. Ini sih namanya wes hewes hewes dikandani ora ngrewes. Tapi setelah belajar tentang komunikasi produktif di kelas Bunda Sayang, agaknya kesalahan bukan pada suami. Tapi pada saya (nunjuk hidung sendiri).
Sayalah yang masih menggunakan komunikasi seperti anak kecil. Bukan cara dewasa seperti yang diharapkan suami. Susah sekali mengendaliKan emosi ini. Pyuhhh...
Namun, masih banyak waktu. Sepanjang hayat masa belajar. Jadi jangan menyerah. Jangan berhenti belajar berkomunikasi produktif. Semoga kau tetap sabar ya suamiku....

Komentar
Posting Komentar