Langsung ke konten utama

Aliran Rasa "Komunikasi Produktif"



Saya ingat dulu saat awal menikah, komunikasi dengan suami buruk sekali. Banyak silangnya. Apa yang ingin diungkapkan, berbeda dengan yang ditampakkan. Lebih banyak ngambeknya malah. Dan “permainan otak” ala perempuan pun sering terjadi.
Dikit-dikit ngambek, mogok bicara, parahnya lagi kalau cemburu, sampe banting pintu juga suami nggak paham.

Capek juga kayak gini terus. Laki-laki dan perempuan itu beda. Kita mau ngambek 1000 tahun juga gak bakalan kelar masalah. Jadi daripada minta dimengerti terus, saya aja deh yang “vulgar”. 

Jebred jebred aja saya ungkapkan.
“Saya cemburu sama dia karena Abang cerita tentang dia.”
“Saya kesal karena Abang pulang terlambat.”
“Saya marah karena saya lapar. Jadi saya mau makan dulu “

Sejauh ini sih alhamdulillah udah jarang ngambek. Kalau lagi kesel banget emang iya masih pake silent treatment tapi gak lama setelah itu jujur masalahnya apa. Kami pun jadi jarang bertengkar.. Karena terjadi komunikasi yang “nyambung” secara logika. Udah jarang tuh pake kata sakti perempuan macam 
“Terserah” dan “nggak apa-apa”.

Namun, masih aja berasa kurang produktif. Udah blak-blakan bicara pun kadang responnya masih alaihum gambreng. Jauh dari yang diharapkan. Kadang Cuma diem, entah dengerin apa nggak. Kadang malah ketiduran. Apa suara saya kayak sandiwara radio Lasmini dan Kamandaka?

Juga apa yang saya sampaikan tidak sepenuhnya dipahaminya sampai harus berulangkali menyatakan hal yang sama. Ini sih namanya wes hewes hewes dikandani ora ngrewes. Tapi setelah belajar tentang komunikasi produktif di kelas Bunda Sayang, agaknya kesalahan bukan pada suami. Tapi pada saya (nunjuk hidung sendiri).

Sayalah yang masih menggunakan komunikasi seperti anak kecil. Bukan cara dewasa seperti yang diharapkan suami. Susah sekali mengendaliKan emosi ini. Pyuhhh...
Namun, masih banyak waktu. Sepanjang hayat masa belajar. Jadi jangan menyerah. Jangan berhenti belajar berkomunikasi produktif. Semoga kau tetap sabar ya suamiku....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Day 9 Game Level 4

Memang benar ya, belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air. Kerasa banget bedanya. Contohnya saja belajar menghafal Quran, banyak banget yang kelewat atau lupa. Fa dan Wa sering ketuker. Haduuuh... Kalau anak-anak cepat sekali belajarnya. Meskipun begitu, saya tak mau menyerah. Menghafal sehari satu ayat dengan metode Kauny. Menghafal Quran semudah tersenyum. Pakai gerakan tangan. Fatih diajari, agak malas dia pakai gerakan tangan. Tapi dia dengerin dan bisa. Belakangan saya ragu, dia ini auditori atau kinestetik? Kholid, 2 tahun. Paling semangat kalau pakai gerakan tangan. Baginya seperti permainan. Jadi minta diulang terus sampai bosan. Lalu aktif dengan permainan lain. Thoriq lebih banyak "gak mau laaaah" kalau diajak ngafalin bareng. Hehe. . Lika liku bermain dan belajar bersama anak.

Kreatifitas Bukan Mukjizat

Menyusuri jalanan kota Bandung pagi ini membuat saya terpana. Wah! Keren! Wow! Dan sederetan ketakjuban lainnya. Kreatif! Sejak dari Gedung Sate,  lapangan Gasibu, sampai tembok-tembok di jalan Asia Afrika hingga lukisan sepanjang jalan Braga,  membuat saya terus menggumamkan kata kreatif itu. Tembok penuh mural,  para seniman yang berkostum kartun dan lukisan yang luar biasa indah di jalan Braga. Menurut saya,  kreatifitas itu tidak tiba-tiba turun dari langit. Sebab kreatifitas bukanlah mukjizat,  melainkan hasil usaha manusia untuk mau berusaha dan berpikir di luar kebiasaan,  di luar keumuman. Sebab,  orang kreatif itu memang sedikit berbeda dengan orang yang hanya berpikir “lurus”. Saat kita melihat anak corat-coret tembok,  apa yang terlintas di pikiran kita? Tembok yang kotor? Atau justru memandangnya sebagai bentuk lain dari mural yang kreatif? Saat melihat kelakuan anak-anak yang mungkin sedikit unik, atau orang menyebutnya nakal,...

Day 6 Game Level #4

Beberapa hari ini Fatih tampak sedih. Rantai sepedanya rusak. Biasanya dia ke masjid naik sepeda kesayangannya itu. Sepertinya dia sudah berusaha membetulkannya sendiri, tapi yang terjadi malah rusak. Dan sepedanya tidak bisa digunakan. Kasihan. Tapi dari situ kelihatan bahwa dia sudah berusaha mencari solusi atas masalahnya sendiri, meskipun tidak bisa. Setidaknya dia sudah berusaha. Dan nanti sepedanya akan diperbaiki di bengkel.  Dia tidak menangis saat sepedanya rusak. Hanya agak frustasi aja tuh. Tapi dia berkata, "Aa udahan dulu main sepedanya. Sepedanya rusak." Kalau begini, disebut tipe kinestetis kah?