Langsung ke konten utama

Day 5 Melatih Kemandirian

Aku tidak tahu mengapa, sejak menikah aku menjadi sangat manja. Apa-apa minta dibantu suami, kemana-mana minta dianter suami. Padahal dulu waktu masih single, aku merasa strong. Mau kemana aja, ngapain aja, bisa sendiri. Setelah menikah kok kayak ketergantungan gini sama suami.

Akibatnya jadi tidak baik. Aku jadi tidak bisa apa-apa kalau suami tak ada. Rasanya ada yang kurang lengkap. Ibarat sayap, patah sebelah. Terbangnya jadi miring. 
Padahal suami juga sibuk. Tapi saya repotin terus terutama mau pergi ke suatu tempat. Suami sih oke oke aja selagi bisa. Namun kadang aku ngambek kalau suami tidak mau mengantarkan, atau lupa pada janjinya.

Sore ini aku ada janji dengan teman di alun-alun, mau meminjam sesuatu. Bismillah, aku mau naik angkot aja. Suami menawarkan untuk mengantar, tapi aku harus berani tidak merepotkannya. Lagipula anak-anak sekolah TPA siapa yang jemput nantinya?
Aku pun berangkat sendirian, bawa payung karena langit sangat mendung. Dan pergi sendirian rasanya seperti masih single. Nggak ada pengawal, hehe. Bebas tapi gimama gitu. Semoga untuk pekerjaan rumah lainnya bisa lebih mandiri, nggak minta dibantuin melulu sama suami. Kan harus belajar jadi ibu kuat. Nyuci nyikat, masak cepat, bawa berat, KUAT. Hehe....

#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Day 9 Game Level 4

Memang benar ya, belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air. Kerasa banget bedanya. Contohnya saja belajar menghafal Quran, banyak banget yang kelewat atau lupa. Fa dan Wa sering ketuker. Haduuuh... Kalau anak-anak cepat sekali belajarnya. Meskipun begitu, saya tak mau menyerah. Menghafal sehari satu ayat dengan metode Kauny. Menghafal Quran semudah tersenyum. Pakai gerakan tangan. Fatih diajari, agak malas dia pakai gerakan tangan. Tapi dia dengerin dan bisa. Belakangan saya ragu, dia ini auditori atau kinestetik? Kholid, 2 tahun. Paling semangat kalau pakai gerakan tangan. Baginya seperti permainan. Jadi minta diulang terus sampai bosan. Lalu aktif dengan permainan lain. Thoriq lebih banyak "gak mau laaaah" kalau diajak ngafalin bareng. Hehe. . Lika liku bermain dan belajar bersama anak.

Kreatifitas Bukan Mukjizat

Menyusuri jalanan kota Bandung pagi ini membuat saya terpana. Wah! Keren! Wow! Dan sederetan ketakjuban lainnya. Kreatif! Sejak dari Gedung Sate,  lapangan Gasibu, sampai tembok-tembok di jalan Asia Afrika hingga lukisan sepanjang jalan Braga,  membuat saya terus menggumamkan kata kreatif itu. Tembok penuh mural,  para seniman yang berkostum kartun dan lukisan yang luar biasa indah di jalan Braga. Menurut saya,  kreatifitas itu tidak tiba-tiba turun dari langit. Sebab kreatifitas bukanlah mukjizat,  melainkan hasil usaha manusia untuk mau berusaha dan berpikir di luar kebiasaan,  di luar keumuman. Sebab,  orang kreatif itu memang sedikit berbeda dengan orang yang hanya berpikir “lurus”. Saat kita melihat anak corat-coret tembok,  apa yang terlintas di pikiran kita? Tembok yang kotor? Atau justru memandangnya sebagai bentuk lain dari mural yang kreatif? Saat melihat kelakuan anak-anak yang mungkin sedikit unik, atau orang menyebutnya nakal,...

Day 6 Game Level #4

Beberapa hari ini Fatih tampak sedih. Rantai sepedanya rusak. Biasanya dia ke masjid naik sepeda kesayangannya itu. Sepertinya dia sudah berusaha membetulkannya sendiri, tapi yang terjadi malah rusak. Dan sepedanya tidak bisa digunakan. Kasihan. Tapi dari situ kelihatan bahwa dia sudah berusaha mencari solusi atas masalahnya sendiri, meskipun tidak bisa. Setidaknya dia sudah berusaha. Dan nanti sepedanya akan diperbaiki di bengkel.  Dia tidak menangis saat sepedanya rusak. Hanya agak frustasi aja tuh. Tapi dia berkata, "Aa udahan dulu main sepedanya. Sepedanya rusak." Kalau begini, disebut tipe kinestetis kah?