Langsung ke konten utama

Day 3 Level 3



Hari kedua rewang, diawali dengan pagi yang ceria. Saya bantu ngupas singkong barang sejenak dan anak-anak bermain bersama di halaman. Namanya saja anak-anak, kalau sudah kumpul kadang ada saja kehebohan. Akurnya tak sampai setengah jam, selebihnya terlibat konflik dalam negeri.

Thoriq dan Dira, entah berebut apa, yang menyebabkan keduanya saling berteriak. Saat itu, saya sedang memasak pepes tahu, tiba-tiba saja sudah terdengar tangisan Dira. Dia telah digigit, bagian lengannya sampai merah. Thoriq pun kutegur.

“Kenapa digigit? Kalau main sama-sama dong...”
Eh malah Thoriq nangis kenceng. Begitulah bila dia merasa bersalah. Alhasil, sepanjang hari ini saya tidak ikut bantu-bantu tetangga. Full mengawasi anak-anak sendiri yang ditinggal sekian menit saja sudah seperti Tom & Jerry.

Masalahnya ada pada Kholid yang mulai jail. Colak-colek kakaknya, kadang nyoleknya kebablasan jadi nyubit atau menjambak. Dipisah, mendekat lagi. Sering saya ingatkan kakaknya, kalau Kholid mulai usil begitu, tandanya dia ingin diajak bercanda. Ingin bermain bersama. Kalau dicuekin, dia memang suka cari perhatian.

Jadi, seharian ini, bisa dibilang kami tidak melakukan apa-apa. Hanya leyeh-leyeh, nonton, tidur-tiduran, makan, dan Kholid bolak-balik minta ke kamar mandi mau pipis. Padahal modus aja ingin main air.

Masih ada dua hari lagi, besok dan lusa yang super sibuk. Semoga besok anak-anak bisa dikondisikan supaya bisa ikut berperan membantu tetangga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Day 9 Game Level 4

Memang benar ya, belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air. Kerasa banget bedanya. Contohnya saja belajar menghafal Quran, banyak banget yang kelewat atau lupa. Fa dan Wa sering ketuker. Haduuuh... Kalau anak-anak cepat sekali belajarnya. Meskipun begitu, saya tak mau menyerah. Menghafal sehari satu ayat dengan metode Kauny. Menghafal Quran semudah tersenyum. Pakai gerakan tangan. Fatih diajari, agak malas dia pakai gerakan tangan. Tapi dia dengerin dan bisa. Belakangan saya ragu, dia ini auditori atau kinestetik? Kholid, 2 tahun. Paling semangat kalau pakai gerakan tangan. Baginya seperti permainan. Jadi minta diulang terus sampai bosan. Lalu aktif dengan permainan lain. Thoriq lebih banyak "gak mau laaaah" kalau diajak ngafalin bareng. Hehe. . Lika liku bermain dan belajar bersama anak.

Kreatifitas Bukan Mukjizat

Menyusuri jalanan kota Bandung pagi ini membuat saya terpana. Wah! Keren! Wow! Dan sederetan ketakjuban lainnya. Kreatif! Sejak dari Gedung Sate,  lapangan Gasibu, sampai tembok-tembok di jalan Asia Afrika hingga lukisan sepanjang jalan Braga,  membuat saya terus menggumamkan kata kreatif itu. Tembok penuh mural,  para seniman yang berkostum kartun dan lukisan yang luar biasa indah di jalan Braga. Menurut saya,  kreatifitas itu tidak tiba-tiba turun dari langit. Sebab kreatifitas bukanlah mukjizat,  melainkan hasil usaha manusia untuk mau berusaha dan berpikir di luar kebiasaan,  di luar keumuman. Sebab,  orang kreatif itu memang sedikit berbeda dengan orang yang hanya berpikir “lurus”. Saat kita melihat anak corat-coret tembok,  apa yang terlintas di pikiran kita? Tembok yang kotor? Atau justru memandangnya sebagai bentuk lain dari mural yang kreatif? Saat melihat kelakuan anak-anak yang mungkin sedikit unik, atau orang menyebutnya nakal,...

Day 6 Game Level #4

Beberapa hari ini Fatih tampak sedih. Rantai sepedanya rusak. Biasanya dia ke masjid naik sepeda kesayangannya itu. Sepertinya dia sudah berusaha membetulkannya sendiri, tapi yang terjadi malah rusak. Dan sepedanya tidak bisa digunakan. Kasihan. Tapi dari situ kelihatan bahwa dia sudah berusaha mencari solusi atas masalahnya sendiri, meskipun tidak bisa. Setidaknya dia sudah berusaha. Dan nanti sepedanya akan diperbaiki di bengkel.  Dia tidak menangis saat sepedanya rusak. Hanya agak frustasi aja tuh. Tapi dia berkata, "Aa udahan dulu main sepedanya. Sepedanya rusak." Kalau begini, disebut tipe kinestetis kah?