Hari kedua rewang, diawali dengan pagi yang ceria. Saya bantu ngupas singkong barang sejenak dan anak-anak bermain bersama di halaman. Namanya saja anak-anak, kalau sudah kumpul kadang ada saja kehebohan. Akurnya tak sampai setengah jam, selebihnya terlibat konflik dalam negeri.
Thoriq dan Dira, entah berebut apa, yang menyebabkan keduanya saling berteriak. Saat itu, saya sedang memasak pepes tahu, tiba-tiba saja sudah terdengar tangisan Dira. Dia telah digigit, bagian lengannya sampai merah. Thoriq pun kutegur.
“Kenapa digigit? Kalau main sama-sama dong...”
Eh malah Thoriq nangis kenceng. Begitulah bila dia merasa bersalah. Alhasil, sepanjang hari ini saya tidak ikut bantu-bantu tetangga. Full mengawasi anak-anak sendiri yang ditinggal sekian menit saja sudah seperti Tom & Jerry.
Masalahnya ada pada Kholid yang mulai jail. Colak-colek kakaknya, kadang nyoleknya kebablasan jadi nyubit atau menjambak. Dipisah, mendekat lagi. Sering saya ingatkan kakaknya, kalau Kholid mulai usil begitu, tandanya dia ingin diajak bercanda. Ingin bermain bersama. Kalau dicuekin, dia memang suka cari perhatian.
Jadi, seharian ini, bisa dibilang kami tidak melakukan apa-apa. Hanya leyeh-leyeh, nonton, tidur-tiduran, makan, dan Kholid bolak-balik minta ke kamar mandi mau pipis. Padahal modus aja ingin main air.
Masih ada dua hari lagi, besok dan lusa yang super sibuk. Semoga besok anak-anak bisa dikondisikan supaya bisa ikut berperan membantu tetangga.
Komentar
Posting Komentar