Langsung ke konten utama

Day 4 Level 3


Kami memulai hari ini dengan mendatangi majelis pengajian Ust Syafiq Riza Basalamah di masjid bakda Shubuh. Saya, Fatih dan Kholid bersiap. Karena hari Ahad jadwal karate Fatih, maka dia langsung pakai seragam karatenya. Kholid antusias memakai sandal kesayangannya. Tapi Thoriq tidak mau ikut, padahal acara ini sudah beberapa hari yang lalu dibahas. Dia lebih suka diam di rumah memang. Sementara Abah sudah stand by di masjid sebagai panitia.

Kami berjalan dengan riang, sampai di masjid sudah penuh jamaah. Alhamdulillah masih kebagian tempat. Anak-anak juga relatif anteng mendengarkan taushiyah ustad. Selesai sekira pukul tujuh pagi, Fatih bersiap latihan. Kali ini latihannya di gunung Pinang. Bekal dibawa dalam tasnya. Semangat sekali berangkatnya.
Sementara saya, agak siang kembali ikut rewang tetangga. Besok pasti sangat sibuk, hari H.

 Anak-anak dijaga abahnya. Alhamdulillah aman. Menjelang zuhur saya pun istirahat bersama anak-anak. Mereka hanya bisa mengerti, tidak bisa ikut membantu di dapur. Banyak benda berbahaya, pisau, tungku, minyak dll. Akhirnya jadi penggembira saja, yaitu icip-icip kue yang sudah matang. Begitulah...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Day 9 Game Level 4

Memang benar ya, belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air. Kerasa banget bedanya. Contohnya saja belajar menghafal Quran, banyak banget yang kelewat atau lupa. Fa dan Wa sering ketuker. Haduuuh... Kalau anak-anak cepat sekali belajarnya. Meskipun begitu, saya tak mau menyerah. Menghafal sehari satu ayat dengan metode Kauny. Menghafal Quran semudah tersenyum. Pakai gerakan tangan. Fatih diajari, agak malas dia pakai gerakan tangan. Tapi dia dengerin dan bisa. Belakangan saya ragu, dia ini auditori atau kinestetik? Kholid, 2 tahun. Paling semangat kalau pakai gerakan tangan. Baginya seperti permainan. Jadi minta diulang terus sampai bosan. Lalu aktif dengan permainan lain. Thoriq lebih banyak "gak mau laaaah" kalau diajak ngafalin bareng. Hehe. . Lika liku bermain dan belajar bersama anak.

Kreatifitas Bukan Mukjizat

Menyusuri jalanan kota Bandung pagi ini membuat saya terpana. Wah! Keren! Wow! Dan sederetan ketakjuban lainnya. Kreatif! Sejak dari Gedung Sate,  lapangan Gasibu, sampai tembok-tembok di jalan Asia Afrika hingga lukisan sepanjang jalan Braga,  membuat saya terus menggumamkan kata kreatif itu. Tembok penuh mural,  para seniman yang berkostum kartun dan lukisan yang luar biasa indah di jalan Braga. Menurut saya,  kreatifitas itu tidak tiba-tiba turun dari langit. Sebab kreatifitas bukanlah mukjizat,  melainkan hasil usaha manusia untuk mau berusaha dan berpikir di luar kebiasaan,  di luar keumuman. Sebab,  orang kreatif itu memang sedikit berbeda dengan orang yang hanya berpikir “lurus”. Saat kita melihat anak corat-coret tembok,  apa yang terlintas di pikiran kita? Tembok yang kotor? Atau justru memandangnya sebagai bentuk lain dari mural yang kreatif? Saat melihat kelakuan anak-anak yang mungkin sedikit unik, atau orang menyebutnya nakal,...

Day 6 Game Level #4

Beberapa hari ini Fatih tampak sedih. Rantai sepedanya rusak. Biasanya dia ke masjid naik sepeda kesayangannya itu. Sepertinya dia sudah berusaha membetulkannya sendiri, tapi yang terjadi malah rusak. Dan sepedanya tidak bisa digunakan. Kasihan. Tapi dari situ kelihatan bahwa dia sudah berusaha mencari solusi atas masalahnya sendiri, meskipun tidak bisa. Setidaknya dia sudah berusaha. Dan nanti sepedanya akan diperbaiki di bengkel.  Dia tidak menangis saat sepedanya rusak. Hanya agak frustasi aja tuh. Tapi dia berkata, "Aa udahan dulu main sepedanya. Sepedanya rusak." Kalau begini, disebut tipe kinestetis kah?