Langsung ke konten utama

Aliran Rasa #3

Family Project. Kedengarannya wah banget ya. Berasa seperti profesional gitu, lhah kan emang kita pengen jadi keluarga profesional. Yap!

Keluarga kami begitu spontan, dan sangat suka kumpul. Komunikasi mengalir begitu saja. Kritik dan saran kami tanggapi dengan canda tawa. Mengerjakan project pun sesuai mood saja. Kalau semangat, ayo laksanakan saat itu juga. Kalau lelah, bisa dihentikan di tengah jalan. Habis itu leyeh-leyeh. Kalau tidak berminat sejak awal, segera cari alternatif kegiatan lain.

Kadang saya merasa, apalah yang sudah saya kerjakan ini. Tugas dikerjakan tidak dengan semestinya. Melihat teman-teman mengerjakan begitu apik dan rapi. Lah saya? *nundukin kepala.

Tapi tiap keluarga berbeda cara kan ya? Kebetulan saja keluarga kecil kami ini senangnya kumpul doang, wes pokoke kumpul. Dan satu lagi, suka jalan-jalan. Itu bisa disebut project juga kan? Siapa tahu, dari kecil sering diajak jalan-jalan, setelah dewasa nanti anak-anak senang berpetualang, menjelajah dunia seperti Ibnu Bathuthah. Kalau diajak keluar rumah, senang sekali. Namun, kami menghindari mal, takut ketagihan. Hehe.

10 hari mendokumentasikan family project sungguh luar biasa. Maksa-maksain diri untuk konsisten itu masya Allah.... Tiada terkira. Berkejaran dengan deadline nulis yang lain, tapi harus semangat! Semoga keluarga kami bisa lebih kompak dan profesional. Aamiin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Day 9 Game Level 4

Memang benar ya, belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air. Kerasa banget bedanya. Contohnya saja belajar menghafal Quran, banyak banget yang kelewat atau lupa. Fa dan Wa sering ketuker. Haduuuh... Kalau anak-anak cepat sekali belajarnya. Meskipun begitu, saya tak mau menyerah. Menghafal sehari satu ayat dengan metode Kauny. Menghafal Quran semudah tersenyum. Pakai gerakan tangan. Fatih diajari, agak malas dia pakai gerakan tangan. Tapi dia dengerin dan bisa. Belakangan saya ragu, dia ini auditori atau kinestetik? Kholid, 2 tahun. Paling semangat kalau pakai gerakan tangan. Baginya seperti permainan. Jadi minta diulang terus sampai bosan. Lalu aktif dengan permainan lain. Thoriq lebih banyak "gak mau laaaah" kalau diajak ngafalin bareng. Hehe. . Lika liku bermain dan belajar bersama anak.

Kreatifitas Bukan Mukjizat

Menyusuri jalanan kota Bandung pagi ini membuat saya terpana. Wah! Keren! Wow! Dan sederetan ketakjuban lainnya. Kreatif! Sejak dari Gedung Sate,  lapangan Gasibu, sampai tembok-tembok di jalan Asia Afrika hingga lukisan sepanjang jalan Braga,  membuat saya terus menggumamkan kata kreatif itu. Tembok penuh mural,  para seniman yang berkostum kartun dan lukisan yang luar biasa indah di jalan Braga. Menurut saya,  kreatifitas itu tidak tiba-tiba turun dari langit. Sebab kreatifitas bukanlah mukjizat,  melainkan hasil usaha manusia untuk mau berusaha dan berpikir di luar kebiasaan,  di luar keumuman. Sebab,  orang kreatif itu memang sedikit berbeda dengan orang yang hanya berpikir “lurus”. Saat kita melihat anak corat-coret tembok,  apa yang terlintas di pikiran kita? Tembok yang kotor? Atau justru memandangnya sebagai bentuk lain dari mural yang kreatif? Saat melihat kelakuan anak-anak yang mungkin sedikit unik, atau orang menyebutnya nakal,...

Day 6 Game Level #4

Beberapa hari ini Fatih tampak sedih. Rantai sepedanya rusak. Biasanya dia ke masjid naik sepeda kesayangannya itu. Sepertinya dia sudah berusaha membetulkannya sendiri, tapi yang terjadi malah rusak. Dan sepedanya tidak bisa digunakan. Kasihan. Tapi dari situ kelihatan bahwa dia sudah berusaha mencari solusi atas masalahnya sendiri, meskipun tidak bisa. Setidaknya dia sudah berusaha. Dan nanti sepedanya akan diperbaiki di bengkel.  Dia tidak menangis saat sepedanya rusak. Hanya agak frustasi aja tuh. Tapi dia berkata, "Aa udahan dulu main sepedanya. Sepedanya rusak." Kalau begini, disebut tipe kinestetis kah?