Langsung ke konten utama

Day 5 Game Level #4

Semakin diamati, gaya belajar anak berbeda satu sama lain yah. Jadi seru memetakan mereka.

Hari ini pun mereka menunjukkan keunikannya masing-masing dalam belajar.

Thoriq, kalau diajak menggambar bilangnya capek. Diajak ngaji Iqro, dengan santainya bilang gak bisa padahal bisa. Entah kenapa, kalau sama ustazah di TPAnya bisa dan dapat nilai B. Kalau di rumah, kayak gak minat belajar.

Kholid, meski baru dua tahun, dia sangat senang berhitung. Tapi sesukanya dia aja. Langsung angka dua, tiga, empat, lima, tujuh... Angka enam dilewat. Kalau udah sampai sembilan, langsung teriak yeeeaaayyy..... Tanpa menghitung sampai sepuluh dulu. Begitulah dia merayakan keberhasilannya berhitung. Lucu ngitungnya pakai jemari yang ditekuk ngasal. Itu niru dari neneknya. Kalau didongengkan, ekspresi dia jauh lebih lebay dari saya. Ekspresi takut, seru, panik, dsb. Gemesin!

Fatih, kubacakan puisi. Udah sering dibacain puisi, dia menyimak aja dengan baik. Didongengkan cerita juga kalem aja dengerin. Gak heboh, gak interupsi, santai aja. Entah itu paham atau gak, karena belum mau kalau diminta menceritakan kembali atau gantian di yang cerita. Mungkin belum percaya diri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Day 9 Game Level 4

Memang benar ya, belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air. Kerasa banget bedanya. Contohnya saja belajar menghafal Quran, banyak banget yang kelewat atau lupa. Fa dan Wa sering ketuker. Haduuuh... Kalau anak-anak cepat sekali belajarnya. Meskipun begitu, saya tak mau menyerah. Menghafal sehari satu ayat dengan metode Kauny. Menghafal Quran semudah tersenyum. Pakai gerakan tangan. Fatih diajari, agak malas dia pakai gerakan tangan. Tapi dia dengerin dan bisa. Belakangan saya ragu, dia ini auditori atau kinestetik? Kholid, 2 tahun. Paling semangat kalau pakai gerakan tangan. Baginya seperti permainan. Jadi minta diulang terus sampai bosan. Lalu aktif dengan permainan lain. Thoriq lebih banyak "gak mau laaaah" kalau diajak ngafalin bareng. Hehe. . Lika liku bermain dan belajar bersama anak.

Kreatifitas Bukan Mukjizat

Menyusuri jalanan kota Bandung pagi ini membuat saya terpana. Wah! Keren! Wow! Dan sederetan ketakjuban lainnya. Kreatif! Sejak dari Gedung Sate,  lapangan Gasibu, sampai tembok-tembok di jalan Asia Afrika hingga lukisan sepanjang jalan Braga,  membuat saya terus menggumamkan kata kreatif itu. Tembok penuh mural,  para seniman yang berkostum kartun dan lukisan yang luar biasa indah di jalan Braga. Menurut saya,  kreatifitas itu tidak tiba-tiba turun dari langit. Sebab kreatifitas bukanlah mukjizat,  melainkan hasil usaha manusia untuk mau berusaha dan berpikir di luar kebiasaan,  di luar keumuman. Sebab,  orang kreatif itu memang sedikit berbeda dengan orang yang hanya berpikir “lurus”. Saat kita melihat anak corat-coret tembok,  apa yang terlintas di pikiran kita? Tembok yang kotor? Atau justru memandangnya sebagai bentuk lain dari mural yang kreatif? Saat melihat kelakuan anak-anak yang mungkin sedikit unik, atau orang menyebutnya nakal,...

Day 6 Game Level #4

Beberapa hari ini Fatih tampak sedih. Rantai sepedanya rusak. Biasanya dia ke masjid naik sepeda kesayangannya itu. Sepertinya dia sudah berusaha membetulkannya sendiri, tapi yang terjadi malah rusak. Dan sepedanya tidak bisa digunakan. Kasihan. Tapi dari situ kelihatan bahwa dia sudah berusaha mencari solusi atas masalahnya sendiri, meskipun tidak bisa. Setidaknya dia sudah berusaha. Dan nanti sepedanya akan diperbaiki di bengkel.  Dia tidak menangis saat sepedanya rusak. Hanya agak frustasi aja tuh. Tapi dia berkata, "Aa udahan dulu main sepedanya. Sepedanya rusak." Kalau begini, disebut tipe kinestetis kah?