Semakin diamati, gaya belajar anak berbeda satu sama lain yah. Jadi seru memetakan mereka.
Hari ini pun mereka menunjukkan keunikannya masing-masing dalam belajar.
Thoriq, kalau diajak menggambar bilangnya capek. Diajak ngaji Iqro, dengan santainya bilang gak bisa padahal bisa. Entah kenapa, kalau sama ustazah di TPAnya bisa dan dapat nilai B. Kalau di rumah, kayak gak minat belajar.
Kholid, meski baru dua tahun, dia sangat senang berhitung. Tapi sesukanya dia aja. Langsung angka dua, tiga, empat, lima, tujuh... Angka enam dilewat. Kalau udah sampai sembilan, langsung teriak yeeeaaayyy..... Tanpa menghitung sampai sepuluh dulu. Begitulah dia merayakan keberhasilannya berhitung. Lucu ngitungnya pakai jemari yang ditekuk ngasal. Itu niru dari neneknya. Kalau didongengkan, ekspresi dia jauh lebih lebay dari saya. Ekspresi takut, seru, panik, dsb. Gemesin!
Fatih, kubacakan puisi. Udah sering dibacain puisi, dia menyimak aja dengan baik. Didongengkan cerita juga kalem aja dengerin. Gak heboh, gak interupsi, santai aja. Entah itu paham atau gak, karena belum mau kalau diminta menceritakan kembali atau gantian di yang cerita. Mungkin belum percaya diri.
Hari ini pun mereka menunjukkan keunikannya masing-masing dalam belajar.
Thoriq, kalau diajak menggambar bilangnya capek. Diajak ngaji Iqro, dengan santainya bilang gak bisa padahal bisa. Entah kenapa, kalau sama ustazah di TPAnya bisa dan dapat nilai B. Kalau di rumah, kayak gak minat belajar.
Kholid, meski baru dua tahun, dia sangat senang berhitung. Tapi sesukanya dia aja. Langsung angka dua, tiga, empat, lima, tujuh... Angka enam dilewat. Kalau udah sampai sembilan, langsung teriak yeeeaaayyy..... Tanpa menghitung sampai sepuluh dulu. Begitulah dia merayakan keberhasilannya berhitung. Lucu ngitungnya pakai jemari yang ditekuk ngasal. Itu niru dari neneknya. Kalau didongengkan, ekspresi dia jauh lebih lebay dari saya. Ekspresi takut, seru, panik, dsb. Gemesin!
Fatih, kubacakan puisi. Udah sering dibacain puisi, dia menyimak aja dengan baik. Didongengkan cerita juga kalem aja dengerin. Gak heboh, gak interupsi, santai aja. Entah itu paham atau gak, karena belum mau kalau diminta menceritakan kembali atau gantian di yang cerita. Mungkin belum percaya diri.
Komentar
Posting Komentar