Langsung ke konten utama

Ternyata Penyimpangan Seksual Ada Banyak Jenisnya

Waktu nonton film 50 Shades de Gray, ada dua nilai yang diangkat. Nilai negatif menurut saya.
1. Perempuan yang belum pernah melakukan hubungan seks sebelum menikah adalah salah, culun, polos, maka harus "diperbaiki" dengan cara diajak berhubungan seks. Nilai kebebasan. Berhubungan dengan bukan mahramnya tanpa ikatan pernikahan.

2. Sadomasokisme. Ini adalah penyimpangan seksual. Tokoh lelakinya senang menyiksa partner seksnya. Ada banyak alat penyiksaan, mulai dari borgol sampai cambuk. Mengerikan sekali. Seks bebasnya aja udah salah, ini ditambah pake penyiksaan.

Penyimpangan seksual ada banyak lagi. Fetishisme (terangsang dengan hanya melihat bagian2 tertentu dari lawan jenisnya) misal dengan melihat sepatunya. Pernah membaca majalah yang menbahas tentang ini, kok aneh ya
 Masa sih hanya melihat sepatunya aja udah terangsang? Tapi jadi makin aneh karena sekarang marak para lelaki yang fetish dengan cadar dan kaos kaki. Jadi para lelaki sakit ini gemar mengoleksi cadar wanita. Dipakai sendiri, merasa terangsang sendiri. Sakit jiwa!

Ada juga voyeurisme. Ngintip! Pernah  saya dengar, orang yang hobi ngintip orang lagi berhubungan. Hobi dia begitu. Dan ketika dia berumah tangga, gak bener. Cerai padahal.bsru sebentar nikah. Sampe tua dia tetap jomblo. Entahlah yang jelas kita harus tetap waspada terhadap semua penyimpangan Seksual. Selamatkan anak-anak generasi emas masa depan!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Day 9 Game Level 4

Memang benar ya, belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air. Kerasa banget bedanya. Contohnya saja belajar menghafal Quran, banyak banget yang kelewat atau lupa. Fa dan Wa sering ketuker. Haduuuh... Kalau anak-anak cepat sekali belajarnya. Meskipun begitu, saya tak mau menyerah. Menghafal sehari satu ayat dengan metode Kauny. Menghafal Quran semudah tersenyum. Pakai gerakan tangan. Fatih diajari, agak malas dia pakai gerakan tangan. Tapi dia dengerin dan bisa. Belakangan saya ragu, dia ini auditori atau kinestetik? Kholid, 2 tahun. Paling semangat kalau pakai gerakan tangan. Baginya seperti permainan. Jadi minta diulang terus sampai bosan. Lalu aktif dengan permainan lain. Thoriq lebih banyak "gak mau laaaah" kalau diajak ngafalin bareng. Hehe. . Lika liku bermain dan belajar bersama anak.

Kreatifitas Bukan Mukjizat

Menyusuri jalanan kota Bandung pagi ini membuat saya terpana. Wah! Keren! Wow! Dan sederetan ketakjuban lainnya. Kreatif! Sejak dari Gedung Sate,  lapangan Gasibu, sampai tembok-tembok di jalan Asia Afrika hingga lukisan sepanjang jalan Braga,  membuat saya terus menggumamkan kata kreatif itu. Tembok penuh mural,  para seniman yang berkostum kartun dan lukisan yang luar biasa indah di jalan Braga. Menurut saya,  kreatifitas itu tidak tiba-tiba turun dari langit. Sebab kreatifitas bukanlah mukjizat,  melainkan hasil usaha manusia untuk mau berusaha dan berpikir di luar kebiasaan,  di luar keumuman. Sebab,  orang kreatif itu memang sedikit berbeda dengan orang yang hanya berpikir “lurus”. Saat kita melihat anak corat-coret tembok,  apa yang terlintas di pikiran kita? Tembok yang kotor? Atau justru memandangnya sebagai bentuk lain dari mural yang kreatif? Saat melihat kelakuan anak-anak yang mungkin sedikit unik, atau orang menyebutnya nakal,...

Day 6 Game Level #4

Beberapa hari ini Fatih tampak sedih. Rantai sepedanya rusak. Biasanya dia ke masjid naik sepeda kesayangannya itu. Sepertinya dia sudah berusaha membetulkannya sendiri, tapi yang terjadi malah rusak. Dan sepedanya tidak bisa digunakan. Kasihan. Tapi dari situ kelihatan bahwa dia sudah berusaha mencari solusi atas masalahnya sendiri, meskipun tidak bisa. Setidaknya dia sudah berusaha. Dan nanti sepedanya akan diperbaiki di bengkel.  Dia tidak menangis saat sepedanya rusak. Hanya agak frustasi aja tuh. Tapi dia berkata, "Aa udahan dulu main sepedanya. Sepedanya rusak." Kalau begini, disebut tipe kinestetis kah?